Wednesday, 17 October 2018

Jadikan Utang Sebagai Budaya

Minggu, 18 Maret 2018 — 6:56 WIB
budaya

Oleh S. Saiful Rahim

BIASANYA setiap kali disodorkan teh manis oleh Mas Wargo, Dul Karung langsung menyeruputnya. Bibir yang agak tebal itu seperti mengandung zat pendingin semacam A.C.

Tetapi kali ini tidak. Diperhatikannya dulu dengan seksama isi gelas, seakan-akan ada sesuatu yang dicari di sana.

“Apa yang kaucari, Dul?” tanya orang yang duduk di sebelah kiri Dul Karung.

“Palupi!” jawab Dul Karung agak lantang, sehingga orang yang bertanya terkejut.
Beberapa hadirin malah tertawa. Mereka adalah orang yang tiba-tiba teringat judul film cukup populer pada tahun 1980-an, “Apa Yang Kau Cari, Palupi?”

“Maaf, Mas. Saya ingin tahu Mas Wargo jual kopi, teh, wedang jahe, dan lain-lain itu airnya dari mana?” tanya Dul Karung serius. Bahkan tendensius.

“Loh, memang kenapa? Semua air di warung ini, termasuk untuk cuci piring, gelas dan perabotan kotor bukan menyauk dari kali yang penuh sampah. Aku beli pada Bang Acang yang keliling jual air ledeng kalengan. Hanya sekali-sekali kalau Bang Acang gak liwat aku minta sedikit ke hotel seberang jalan itu,” jawab Mas Wargo sedikit marah.

“Nah, itu dia! Beberapa hari lalu aku baca koran dan lihat potretnya, Pak Gubernur mengontrol sumur sebuah hotel yang aku lupa namanya di Jalan Thamrin. Ternyata hotel tersebut menyedot air tanah secara melangar aturan. Itu bukan sekadar sama dengan mencuri, tetapi juga menggerogoti keamanan kota. Karena mengambil air tanah secara seenaknya saja bisa menyebabkan tanah amblas. Itu artinya kota pun bisa karam,” kata Dul Karung beragak sok tahu.

“Kalau begitu ketika Bang Acang tidak jualan air, Mas Wargo harus membeli air kemasan dalam botol,” usul orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang.

“Jangan!” sergah orang di ujung kanan bangku panjang.

“Air kemasan dalam botol, menurut penelitian ilmiah di luar negeri, tercemar zat mikroplastik. Yaitu partikel super kecil yang bisa menggumpal di dalam tubuh dan merusak organ vital tubuh,” potong Dul Karung sebelum orang duduk di ujung kanan bangku panjang sempat menyambung omongannya.

“Kau memang terlalu sekali, Dul! Sudah belanja ngutang melulu, sekarang nakut-nakutin orang lagi,” gerutu entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Kalian jangan salah dalam memahami aksiku. Sekarang ini tidak ada perusahaan, bahkan negara, yang tidak berutang.

“Kalau berutang itu sudah jadi tradisi di mana-mana, maka dengan sendirinya utang akan jadi satu unsur budaya. Kalau sudah begitu para pelakunya kan layak disebut budayawan.

“Nah, itu kan jauh lebih baik daripada koruptor yang duluan disebut budayawan. Sekarang kan sering orang mengatakan korupsi sudah menjadi budaya di negeri kita,” kata Dul Karung sambil ngeloyor pergi begitu saja. (syahsr@gmail.com )*