Thursday, 26 April 2018

Materai Palsu Dijual Lewat Online dan Pelaku Miliki Blog

Selasa, 20 Maret 2018 — 18:00 WIB
Materai palsu yang disita polisi

Materai palsu yang disita polisi

JAKARTA – Subdit II Fiskal, Moneter dan Devisa Dir Reskrimsus Polda Metro Jaya membongkar sindikat pemalsu materai senilai Rp 6 miliar lebih dengan mengamankan delapan tersangka. Jaringan ini membuat dan memasarkan materai palsu ke seluruh wilayah Indonesia lewat online shop dan toko kelontong.

Tersangka DJ, HK, IS, AS, AF, AT, PA, dan ZF ditangkap terpisah di wilayah Bandung, Bogor dan Jakarta. Dari mereka petugas menyita, 63.800 materai Rp 6000, satu mobil, dan beberapa materai Rp 3000 serta 6000 yang sudah dikemas dan perlengkapan untuk membuat materai palsu.

“Tersangka membuat materai, selanjutnya memasarkan materai dengan cara menjual secara online (melalui blog dan online shop). Dalam menjual materai palsu tersebut, pelaku membuat blog yang di dalamnya terdapat nomor telepon yang bisa dihubungi untuk pemesanan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono, Selasa (20/3).

Dikatakan, begitu ada kesepakatan dengan pembeli, tersangka kemudian memberikan nomor rekening atas nama orang lain (nominee) yang tujuannya agar transaksi tersebut tidak terdeteksi. Setelah dilakukan pembayaran, pelaku kemudian mengirim materai palsu itu melalui jasa pengiriman JNE kealamat pembeli.

“Dalam penjualan itu, pelaku membeli 1 rim materai palsu Rp 10 juta kemudian dijual Rp 30 juta, sehingga terdapat keuntungan 20 juta setiap penjualan 1 rim materai palsu. Pelaku telah melakukan penjualan selama 3 tahun dan berdasarkan aliran rekening penampung penjualan materai, total kerugian negara mencapai Rp. 6.065.163.750,” ujarnya.

Pengungkapan kasus bermula setelah ada laporan dari tim intelejen perpajakan banyaknya penjualan materai palsu melalui online di Tokopedia, Shopee, Bukalapak. Kemudian petugas mengidentifikasipenjual materai di www.grosirmaterai6000.blogspot.com dan http://www.tokopedia.com/serbamuraahh/edisi-tahun-2017-materai-6000-isi-pcs.

“Kemudian tim melakukan pembelian materai 6000 melalui web seharga Rp 1.500 per pc dan mendapatkan materai 6000 tersebut dan dilakukan pengecekan keaslian di Kantor Peruri selaku penerbit materai. Dari Peruri ternyata materai tersebut palsu dan bukan materai yang diterbitkan oleh Peruri. Dan kami lakukan penyelidikan 2 Januari dan kami tangkap delapan tersangka,” ucapnya.

Dari pengakuan para tersangka jaringan ini dibagi dalam dua kelompok, yaitu DJ, HK, IS, AS, AF, dan AT membuat dan menjual. Sementara PA dan ZF mengemas untuk dikirim ke pemesan. Aksi tersebut dilakukan para tersangka sejak 2015 lalu. Materai Rp 6000 itu dijual Rp 1.500 hampir di seluruh wilayah di Indonesia, diantaranya Makassar, Palu, Manado, Bandung, Surabaya dan Jakarta.

Sementara itu di tempat yang sama, Kasubdit Forensik dan Barang Bukti Direktorat Intelejen Perpajakan Joni Isparianti mengungkapkan, tindakan para pelaku jelas merugikan negara. Tepatnya pendapatan untuk kas negara.

“Ini yang saya pegang ada 25 ribu materai 6000 dijual pelaku Rp 1500. Yang seharusnya dijual oleh negara Rp 6000. Dikalikan saja 25 ribu materai dengan harga normal Rp 6000, ketemu harga Rp 150 juta. Dan harusnya itu masuk ke kas negara,” ujar Joni.

Atas perbuatannya, para pelaku dijerat dengan Pasal 13 UU Nomor 13 Tahun 1985 tentang Bea Materai Jo Pasal 253 KUHP Jo Pasal 257 KUHP dan atau Pasal 3-5 UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang pencegahan dan tindak pidana pencucian uang. Para pelaku terancam mendekam di penjara hingga 15 tahun lebih dan denda maksimal Rp 15 M. (ilham/b)