Thursday, 26 April 2018

Terkait Isu Suap, KPK Geledah Rumah Walikota Nonaktif Malang

Selasa, 20 Maret 2018 — 18:29 WIB
gedung kpk 1

JAKARTA – Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah rumah Walikota nonaktif Malang, Mochamad Anton, Selasa (20/3/2018). Penggeledahan diduga terkait pengembangan kasus dugaan suap pembahasan APBD-P Pemkot Malang Tahun Anggaran 2015.

Juru Bicara KPK, Febri Diansyah pun mengakui soal kegiatan penggeledahan tersebut. Menurutnya, penggeledahan bagian dari proses pencarian barang bukti.

“Ada penggeledahan oleh tim di rumah Walikota Malang hari ini, sedang proses pencarian bukti,” kata Febri, saat dikonfirmasi melalui pesan singkat, Selasa (20/3/2018).

Saat disinggung penggeledahan dilakukan terkait kemungkinan Anton telah ditetapkan tersangka dalam kasus ini, Febri enggan menjawab. Sementara, informasi mengenai status Anton tersangka sudah ramai diberitakan beberapa media lokal Malang.

Kemarin, Senin (19/3/2018), penyidik KPK memeriksa 14 orang saksi dari unsur Anggota DPRD Kota Malang TA 2015. Pemeriksaan dilakukan di Polres Malang.

“Tim memang sedang melaksanakan kegiatan di Malang. Hal tersebut merupakan pengembangan kasus dugaan suap pembahasan APBD-P Pemkot Malang TA 2015,” ujar Febri, Senin (19/3/2018).

Pemeriksaan, kata Febri, dilakukan penyidik untuk mendalami dugaan aliran dana yang diterima anggota DPRD lainnya dalam pembahasan APBD-P Kota Malang TA 2015. Tidak menutup kemungkinan sudah ada tersangka baru dalam kasus tersebut. Hanya saja, KPK belum mau membeberkannya.

“Untuk sementara baru informasi tersebut yang dapat kami sampaikan. Karena tim masih di lapangan, kami masih perlu melakukan beberapa kegiatan di penyidikan ini. Jadi nama dan jumlah tersangka belum bisa kami konfirmasi hari ini,” pungkasnya.

Dalam kasus suap pembahasan APBD-P Pemkot Malang Tahun Anggaran 2015, KPK baru mengumumkan dua orang tersangka yakni Mantan Ketua DPRD Kota Malang, Mochamad Arief Wicaksono dan Kepala Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Pengawasan Bangunan (DPUPPB) Kota Malang, Jarot Edy Sulistyono. Arief disinyalir menerima suap dari Jarot sebesar Rp700 juta.

Arief juga berstatus tersangka dalam kasus dugaan suap penganggaran kembali proyek pembangunan Jembatan Kendung Kandang, dalam APBD Kota Malang Tahun Anggaran 2016 pada 2015, bersama Direktur PT Hidro Tekno Indonesia, Hendarwan Maruszaman. (julian/yp)