Thursday, 26 April 2018

Vladimir Putin Menang Pilpres Rusia, Ucapan Selamat dari Barat ‘Sepi’

Selasa, 20 Maret 2018 — 0:46 WIB
Presiden Vladimir Putin menemui para kandidat presiden yang kalah dalam Pilpres 2018.

Presiden Vladimir Putin menemui para kandidat presiden yang kalah dalam Pilpres 2018.

RUSIA– Di tengah ketegangan dengan Rusia belakangan ini, ucapan selamat dari negara-negara Barat lamban disampaikan, sementara Cina dan Jepang langsung memberikan selamat kepada Putin.

Dalam pesan yang disampaikan untuk memberikan selamat kepada Vladimir Putin yang menang pemilihan presiden Rusia sehingga menjabat untuk masa jabatan keempat, Presiden Cina Xi Jinping mengatakan kedua negera menjalin hubungan yang sangat baik.

“Pada saat ini, kemitraan strategis menyeluruh antara Cina dan Rusia berada pada titik terbaik dalam sejarah, yang bisa menjadi contoh bagi pembentukan hubungan internasional jenis baru,” kata Presiden Xi, Senin (19/03).

Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe -kata Kementerian Luar Negeri- berbicara kepada Putin setelah kemenangannya dan kedua pemimpin membahas upaya denuklirasasi di Semenanjung Korea.

Selain pemimpin Cina dan Jepang, yang juga sudah menyampaikan selamat kepada Presidem Putin adalah pemimpin Iran, Kazakhstan, Belarus, Venezuela, Bolivia, dan Kuba.

‘Beda pendapat’

Di Jerman, juru bicara Kanselir Angela Merkel, Steffen Seibert, mengatakan Merkel akan mengirim telegram “sangat segera” kepada presiden Rusia.

“Kita berbeda pendapat dengan Rusia dan kita dengan tegas mengkritik kebijakan Rusia dalam beberapa hal -Ukraina, Suriah,” katanya

Dalam pemilihan Presiden Rusia yang digelar Minggu (18/3/2018), Putin memperoleh lebih dari 76% suara.

Namun para pemantau pemilu dari Organisasi Keamanan dan Kerja Sama Erop, OECD, mengatakan walaupun pemilihan digelar secara efisien, tidak ada kandidat yang benar-benar menjadi altermatif.

Pemimpin oposisi utama, Alexei Navalny, dilarang terjun dalam pemilihan setelah terbukti bersalah dalam kasus penipuan walau Navalny yakin kasusnya itu bermotif politik.

Ketegangan antara Rusia dan Barat memburuk akhir-akhir ini setelah upaya pembunuhan seorang mantan mata-mata asal Rusia, Sergei Skripal dan putrinya, Yulia, di tanah Inggris.

Perdana Menteri Inggris, Theresa May, menuding Rusia yang berada di balik serangan zat syaraf atas keduanya, yang kini masih dalam keadaan kritis.

Sergei Skripal menetap di Inggris setelah diserahkan oleh Rusia dalam program pertukaran mata-mata dan kemudian menetap di Salisbury, Inggris selatan.

Wartawan BBC di Moskow mengatakan hubungan dengan Barat tak mungkin akan segera mencair mengingat komentar-komentar Putin setelah ia menang lagi.

Pemerintah di negara-negara Barat menduga serangan siber akan lebih banyak terjadi dan akan ada upaya lagi untuk mengganggu pemilihan, sebagaimana dalam kasus-kasus sebelumnya yang diarahkan kepada Rusia.

Namun beberapa analis yakin memicu pertentangan dengan negara-negara Barat tidak menarik perhatian besar karena pada akhirnya presiden Rusia harus mengatasi masalah-masalah dalam negeri, seperti pendidikan, perumahan, dan layanan kesehatan. (BBC)