Monday, 10 December 2018

Anak Sopir yang Juga Marbot Ini Lulusan Terbaik IPB

Rabu, 21 Maret 2018 — 16:25 WIB
Ikhsan Suhendro

Ikhsan Suhendro

BOGOR – Institut Pertanian Bogor (IPB) kembali memwisuda mahasiswa tahap VI Program Sarjana, Profesi Dokter Hewan, dan pasca sarjana tahun akademik 2017/2018.

Prosesi wisuda berlangsung di Graha Widya Wisuda, Kampus IPB Dramaga Bogor Rabu (21/3/2018).
Pada wisuda ini, Ikhsan Suhendro dinobatkan sebagai lulusan terbaik Fakultas Peternakan IPB.

Anak seorang sopir komoditi ini meraih Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,71. Nilai nyaris sempurna ini membuat orangtuanya bangga.

Ikhsan Suhendro mengatakan, IPB adalah “Kampus Rakyat” bagi pemuda daerah yang tidak cukup biaya untuk berkuliah. Ikhsan optimis IPB dapat menjadi rumah kedua untuk menuntut ilmu dan menggapai impian-impiannya.

“IPB adalah kampus prestatif dan merakyat. Karena banyak merekrut putra daerah dari pelosok Indonesia. Terutama juga karena IPB memiliki banyak program beasiswa. Ini merupakan hal yang penting, karena ekonomi keluarga saya yang tidak memungkinkan untuk kuliah apalagi sampai ke luar pulau,” kata Ikhsan.

Ikhsan mengaku, memiliki tekad yang kuat untuk melanjutkan kuliah meskipun banyak persoalan yang dihadapinya saat itu.

Meskipun sadar ekonomi orangtuanya tidak memungkinkan, tapi semangat tidak boleh padam.
“Cerita harus berlanjut. Mimpi harus terajut. Maka, di setiap hari sepulang sekolah, saya selalu belajar dengan giat, terutama mempelajari soal-soal Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) dari kawan-kawan yang mengikuti les belajar. Alhamdulillah, saya lulus seleksi masuk SNMPTN dari jalur undangan. Tapi perjalanan tidak terhenti sampai di situ, karena ternyata orang tua belum setuju kalau harus kuliah di luar daerah, karena ekonomi yang tidak memungkinkan. Tapi saya mencoba meyakinkan orang tua kalau saya sudah mendaftar Bidikmisi. Insya Allah pasti lulus, Bu. Kata saya saat itu pada ibu,” ujarnya mengenang.

Ia bercerita, ada nasehat ibunya yang ia pegang. Kata sang bunda, agar dirinya menjadi orang yang prihatin.

“Kamu harus hemat-hemat, jangan kebawa temen yang boros, le,” pesan sang ibu saat hendak merantau ke Bogor.

Ikhsan dan keluarga sangat bersyukur dengan sistem penerimaan mahasiswa baru di IPB, karena di tingkat pertama para mahasiswa tinggal di asrama yang biayanya terbilang murah.

Putra kelahiran Lampung 12 Desember 1994 ini mengatakan mahasiswa itu punya tiga pilihan, sambil menunjukan jarinya, yaitu akademik, organisasi dan istirahat.

Tapi dari tiga pilhan itu, ia hanya bisa memilih dua. Yang dua akan kita dapatkan dengan baik, tetapi yang satu tentu harus dikorbankan.

“No problem, no pain no gain, karena istirahat sesungguhnya adalah ketika sudah mati,” ujarnya.

Untuk memenuhi hasratnya berorganisasi, Ikhsan memilih mendaftar sebagai marbot masjid Al Hurriyyah di Kampus IPB Dramaga.

Alasannya adalah selain menjadi wadah pengembangan bakat dan pengembanan amanah, Ikhsan mendapatkan mess atau asrama gratis.

“Tanpa pikir panjang langsung mendaftar. Singkat cerita akhirnya lolos dan diterima menjadi marboth masjid Al Hurriyyah, Alhamdulillah. Hal yang menjadi pembeda dari menjadi marbot di maskam (masjid kampus) IPB dibanding maskam lain adalah kepengurusan kelembagaan masjid dan tim pembersih yang sudah ada orangnya dan sudah tersusun rapih, sehingga tugas kami sebagai marboth adalah menjadi panitia di hari besar agama Islam, pemakmur masjid, pengelola kajian rutin, dan pengembangan bakat diri,” ujarnya.

Saat menjadi marbot, rutinitas sehari-hari Ikhsan shalat tahajjud sebelum shalat subuh, dilanjutkan syuro (musyawarah), lalu mengikuti kajian rutin di Aula Masjid Al Hurriyyah sebelum berangkat kuliah

“Manfaat lainnya adalah sholat berjamaah saya terjaga dan ikatan ukhuwah (persaudaraan) yang kuat hingga sekarang,”ujarnya.

Ikhsan selalu memegang nasehat salah satu ustadznya bahwa sebagai aktivis dakwah, kita harus berprestasi, agar dakwah kita didengar. Jika belajar adalah ibadah, maka berprestasi adalah dakwah.

Ia sempat merasa keteteran dalam membagi waktu, apalagi saat itu (semester 6) Ikhsan memiliki empat organisasi sekaligus, tiga diantaranya menjadi ketua. Tetapi, karena sering berdisuksi dengan teman seperjuangan, Ikhsan menemukan pola yang mendukungnya untuk bisa berorganisasi dan berprestasi.

“Ternyata pola hidup juga memengaruhi daya tangkap saat di kelas, misalnya saja ternyata tidur pagi dan sore itu dapat menghilangkan hafalan dan belajar di malam hari sebelum tidur ternyata mampu menguatkan hafalan dan daya analisa. Yang terpenting, kerahkan 100% saat di kelas, selalu memperhatikan dosen dan siapkan pertanyaan bila kurang jelas,” katanya.

Selama masa perkuliahan, Ikhsan menjadi bagian dari Marbot Masjid Al Hurriyyah 2014-2017. Dan aktif di berbagai bidang keorganisasian kampus diantaranya Birena 2013-2017 hingga menjadi Ketua Hubungan Luar dan Multimedia pada tahun 2016, Divisi Kewirausahaan Himaproter 2015, Ketua Reporter Majalah Emulsi 2015-2016, dan Ketua Kajian Strategis dan Aksi Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Peternakan 2016.

Beberapa prestasi yang dicapai selama menempuh pendidikan di IPB adalah memperoleh juara 1 Debat Fakultas Peternakan IPB 2014, juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah di Universitas Pendidikan Ganesha Bali 2015 dan menjadi juara 1 dalam kompetisi Lomba Karya Tulis Ilmiah di Universitas Padjadjaran 2016.

”Setelah lulus, saya ingin menjadi seorang profesional perunggasan (poultryman) dan penulis aktif di majalah nasional. Saat ini saya bekerja di perusahaan perunggasan multinasional, PT Japfa Comfeed Indonesia, sebagai Management Trainee Supervisor,” katanya optimis. (yopi/b)