Tuesday, 16 October 2018

Usia Sudah Kepala Tujuh Masak Dituduh Pelakor?

Selasa, 27 Maret 2018 — 6:53 WIB
wa

PRAKTISI pelakor (perebut laki orang) lazimnya perempun usia di bawah kepala lima. Tapi nasib Mbah Kemisih, 73, sungguh kasihan. Pagi usai subuhan didatangi Ny. Kamsini, 54, dan dihajar habis. Tuduhannya merebut suami. Habis mengeksekusi, Kamsini kabur selama 2 bulan dan baru kemarin ditangkap polisi.

Memangnya ada lelaki doyan perempuan usia kepala tujuh? Hanya yang nggragas ngkali, mau melakukannya. Sebab kebanyakan lelaki pengabdi syahwat, yang dicari pastilah usia antara 17-40. Istilah mobil begitu, masih layak pakai dan nyaman dikendarai. Kalau usia 70 tahun mah, pasti sudah sering turun mesin dan olie belepotan ke mana-mana.
Mbah Kemisih warga Dampit adalah nenek-nenek paling malang se Kabupaten Malang. Yang bener saja, usia segitu kok dicemburui oleh tetangganya, Ny. Kamsini. Katanya, si nenek ada main dengan suami Kamsini, Santowi, 60. Apa lelaki ini penderita katarak? Masak nenek yang sudah keriput bau tanah dan berusia jauh di atasnya kok dipacari.

Kalau mau, dan niatnya punya WIL, pastilah Santowi memilih yang jauh di bawahnya, yang berusia antara 40 tahunan lah. Tapi itu semua tak pernah dilakukannya. Karena cinta Santowi memang hanyalah untuk Kamsini seorang. Lagi pula buat apa macem-macem, usia seperti dirinya wanita itu kan hanya: perjuangan hidup, bukan lagi pandangan hidup.

Tapi bagi Kamsini yang butarepan (pecemburu), setiap melihat suaminya ngobrol ngganyik (asyik) dengan Mbah Kemisih tetangga sebelah rumah, dianggap sebagai fakta hukum bahwa si nenek kasmaran pada suaminya. Bila melihat pemandangan itu, Kamsini di dapur suka nendang keranjang atau banting pintu. Ini bentuk protes atas ketidaksukaan atas intimnya Mbah Kemisih – Santowi.

Para tetangga memang sudah mafhum atas kelakuan Kamsini. Perempuan ini memang tak disukai tetangga, karena sering bikin ribut. Suka bikin gara-gara, omongannya sering menyakitkan, jika tak mau disebut lambe nggambleh (nyinyir), apa saja dikomentari. Untung saja dia tak ngerti WA-nan di HP canggih.

Mbah Kemisih pernah menasihati Kamsini, jangan mencemburui dirinya. Tak mungkin Santowi mau pada dirinya yang sudah seperti bathang alelaku (mayat hidup). “Kalau saya sudah tua masih cantik seperti penyanyi Titiek Puspa, baru boleh kamu cemburu,” kata si nenek.

Tapi Kamsini tak peduli. Klimaknya beberapa hari lalu. Pagi buta habis subuhan, Mbah Kemisih didatangi Kamsini. Tiba-tiba saja rambutnya dijambak, lalu kepala dibenturkan ke tembok. Tentu saja Mbah Kemisih jatuh ngusruk (terjerembab). Habis menganiaya tetangga Kamsini langsung kabur selama 2 bulan di rumah anaknya.

Dikira suasana sudah adem karena menjelang Pilkada Serentak, beberapa hari lalu Kemisih pulang dengan harapan warga sudah melupakannya. Nggak tahunya, begitu dia nampak batang hidungnya warga segera lapor polisi. Kamsini pun dicomot dan ditahan di Polsek Dampit.

Jika Mbah Kemisih seorang ustadzah, kemungkinan besar dipolitisasi orang. (JPNN/Gunarso TS)