Sunday, 18 November 2018

Kopi Bang Jalil Terasa Pahit!

Sabtu, 31 Maret 2018 — 6:35 WIB
ngayal

“ HALO, apa kabar Baik? Syukur. Begini ini saya lagi cari wakil. Apa Bapak mau dicalonkan jadi wakil?

Wakil apa? Oh, jangan main-main ini Pak. Wakil Presiden tau? Nah, saya yakin ini tawaran pas banget buat Bapak. Saya tahu Bapak dari partai yang bagus di negeri ini. Saya yakin, jika dilihat dari segi apa saja Bapak pas banget nih untuk dicalonkan jabatan ini? Dari segi umur, tampang, tubuh, kesehatan pas banget. Dari segi harta kekayaan, oke. Dari segi pengalaman, pendidikan, juga okeh. Dari segi dukungan, pasti banyak yang mendukung Bapak, karena partai Bapak besar!”

Bang Jalil yang mendapat telepon dari entah siapa itu, langsung saja kupingnya pengeng! Oleh sebab itu,tutup saja HP-nya.

“Bapak nggak usah marah. Itu doa tau. Kalau didengar dan dikabulkan oleh Allah? Apa Bapak mau menolak? Janganlah. Tapi, yaitulah kalau nggak sanggup ya bilang, kalau sanggup ya bilang oke,” ujar sang istinyang selalu siap dengan kopi hangat buat Bang Jalil.

Bang Jalil tersenyum sejuk juga apa yang disampikan sang istri. Dia menyeruput kopi. Lalu pikirannya melayang, seandainya jadi beneran. Jadi wakil presiden, mau apa ya? Ya, pikirannya berputar-putar terus, sampai dia tertidur nggak ketemu juga apa yang harus dilakukan.

“ Kok, tidur? Tuh ada tamu?” ujar sang istri.

Bang Jalil gelagapan, mengucek-mengucek mata; “O, Pak Joko? Ada apa nih, tumben?” tanya Bang Jalil sambil menyambut salam sang tamu.

Sang tamu bicara pelan, tapi cukup mengejutkan Bang Jalil.” Bapak terpilih jadi wakil ketua RW!”

“ Nah, benar kan.Bapak terpilih. Ini amanah, Pak. Jadi jangan ditolak, jangan karena honornya kecil, nggak kayak wakil yang di atas. Ini patut disyukuri,” ujar sang istri.

Bang Jalil, lagi-lagi tersenyum,mendengar suara istrinya yang terdengar bijak. “Tapi jangan lupa, honornya nanti Ibu yang pegang, ya Pak?”

Kali ini senyum Bang Jalil berubah, pahit! Kopi yang setengah manis, jadi terasa pahit juga. -massoes