Sunday, 22 July 2018

Istri Cuma Butuh Benggol Tidak Butuh Lagi Bonggol

Minggu, 1 April 2018 — 6:20 WIB
nggakuat

INILAH resiko perkawinan berumur sama. Kini Wibowo, 45, suka uring-uringan pada istrinya, Wiwik, 45, setiap diajak menjalankan “sunah rosul”, selalu menolak dengan banyak alasan. Yang bikin Wibowo tambah emosi, dikasih “bonggol” menolak, tapi “benggol” alias duit tiap bulan selalu minta. Bingung nggak?

Perekat perkawinan itu salah satunya adalah terjaminnnya kebutuhan biologis antar pasangan. Baik suami maupun istri merasa sama-sama saling membutuhkan. Jika istri sampai bersikap sekedar memenuhi kewajiban, pertanda bahwa rumahtangga itu sudah laksana kulkas (baca: dingin). Paling celaka adalah istri yang seperti kulkas dalam kulkas (dingin sekali). Suami masih menuntut haknya, istri sudah tak mau melayani dengan berbagai alasan. Rumahtangga pun di ambang kehancuran.

Wibowo warga Blauran Surabaya, kini sedang dilanda problem multi dimensi. Dalam usia belum kepala lima, dalam urusan ranjang dia masih sangat menggebu-gebu. Sayangnya, Wiwik istrinya yang usia sama sudah tidak lagi mau melayani. Alasannya macam-macam. Yang capeklah, yang sedang “palang merah”-lah. Jadi ibarat sepeda motor, Wibowo sering pusing manakala lama tak sempat “ngetap olie”.

Tapi Wiwik juga heran. Biasanya lelaki makin bertambah usia akan menurun sendiri gairahnya. Tapi Wibowo justru tidak. Biasanya seminggu sekali, justru kini seminggu bisa minta dua kali sesendok makan. Wiwik yang juga seorang pegawai seperti suaminya, jadi kerepotan. Bagaimana mungkin, di kantor sudah kerja lembur, di rumah msih mau “dilembur” suami lagi.

Makin ke sini, Wiwik jadi semakin dingin. Jika dipaksakan juga, dia melayani suami “gelem ora-ora” (baca: asal-asalan). Di ranjang Wibowo seperti wayang buta cakil, eh istri seperti Harjuna puasa lupa sahur, tak ada tenaga. Tentu saja Wibowo kesal, ini istri atau gedebok pisang sih?

Palih aneh, dikasih jatah “bonggol” tidak mau, tapi urusan benggol bulanan alias gaji, selalu menanyakan. “Sudah gajian belum, Mas?” begitu kata Wiwik. Coba, ini kan tidak adil. Haknya mau, tapi kewajibannya ogah. Apa mungkin Wibowo harus mengembargo istri sendiri, yakni baru menyerahkan amplop gaji setelah Wiwik mau melayani. Ini kan tidak etis sebagai suami istri.

Untuk meningkatkan gairah istri, pernah Wiwik diberi jamu penambah gairah wanita. Tapi hasilnya sama sekali tidak ngefek, tetap saja Wiwik ogah melayani suami. Saking jengkelnya, Wibowo sampai mengancam, “Kalau begitu saya harus kawin lagi nih.” Kata Wibowo.

Wiwik tidak menjawab kecuali kabur ke rumah orangtua dengan mengajak anak-anak. Habis sudah kesabaran Wibowo, sehingga beberapa hari lalu terpaksa ke Pengadilan Agama Surabaya, berniat mendaftarkan perceraiannya. Kalau istri berubah pikiran, tak diteruskan. Tapi jika tetap mau menang sendiri, apa boleh buat perceraian harus terjadi.

Mestinya kan, bonggol ayo, benggol juga oke. (JPNN/Gunarso TS)