Sunday, 22 April 2018

ARMADA HANTU

Senin, 2 April 2018 — 5:52 WIB

Oleh Harmoko

INI obrolan di warung kopi rakyat pinggiran. “Fiksi kok dijadikan rujukan politik. Zaman makin gemblung,” kata seseorang, mengomentari pernyataan Prabowo Subianto tentang novel Ghost Fleet (Armada Hantu) bahwa tahun 2030 Indonesia bubar.

“Memangnya kamu sudah baca Ghost Fleet?” sergah temannya setelah menyeruput kopi paginya.

“Jujur, belum. Tapi, si penulisnya sendiri kan sudah bilang, itu buku novel? Fiksi, bukan prediksi.”

“Kamu tahu siapa penulis novel itu?”

“Tahu. Si Peter Warren Singer dan August Cole.”

“Siapa Peter Warren Singer? Dia tidak punya riwayat sebagai penulis fiksi. Novel yang dibuatnya itu berkisah tentang skenario perang dunia yang melibatkan Amerika Serikat dengan China dan Rusia yang bersekutu. Ya, Peter Singer itu ilmuwan politik, sarjana hubungan internasional, ahli strategi di New America Foundation. Dia pendiri Proyek Kebijakan AS di Dunia Islam pada Pusat Kebijakan Timur Tengah di Brookings. Dia juga bekerja di Pusat Ilmu dan Urusan Internasional Belfer di Universitas Harvard, Satuan Tugas Balkan di Departemen Pertahanan AS, dan Akademi Perdamaian Internasional.”
“Kita sedang membahas fiksi, bukan bicara siapa penulisnya.”

“Iya, supaya kamu tahu, itu bukan fiksi biasa. Peter Singer itu dikenal ahli perang abad 21, perang modern, perang asimetris. Jadi, dia membuat fiksi berdasarkan data dan kajian ilmiah. Kajian-kajiannya dipakai rujukan oleh Pentagon, Kongres AS, hingga berbagai ilmuwan dunia. Ada empat buku dia tulis sebelum dia menulis novel Ghost Fleet, semuanya nonfiksi. Buku terlarisnya berjudul Wired for War: The Robotics Revolution and Conflict in the 21st Century. Untuk penulisan buku itu, dia mewawancarai ratusan ilmuwan robotika, penulis fiksi ilmiah, tentara, pemberontak, politisi, pengacara, jurnalis, dan aktivis hak asasi manusia dari berbagai negara.”

“Itu buku tentang apa?”

“Di buku itu Singer berbicara tentang teknologi robotik yang akan memainkan peran dominan dalam peperangan masa depan.”

“Nah, beda. Itu buku ilmiah, bukan fiksi.”

“Kamu pernah dengar novel The Great Pacific War?”

“Apa itu?”

“Makanya, banyak baca. Itu novel dulu dibaca oleh Bung Karno. Dari novel itulah muncul kesadaran Bung Karno tentang akan terjadinya Perang Pasifik. Novel itu ditulis oleh Charles Hector Bywater, wartawan Amerika yang fokus pada kegiatan intelijen angkatan laut. Dari pengalaman liputan mengenai kegiatan intelijen itulah, dia menulis novel yang menggambarkan akan terjadinya Perang Pasifik antara Amerika dan Jepang.”

“Oh, itu fiksi yang kebetulan saja jadi kenyataan.”

“Bukan fiksi yang jadi kenyataan. Kalau mau membahas karya sastra, kamu harus paham juga tentang teori mimetik. Teori ini menyebutkan, karya sastra merupakan refleksi perilaku real yang ada di masyarakat.”

“Wah, makin gemblung. Ngelantur ke mana-mana kamu. Fiksi ya fiksi. Titik.”

“Sebenarnya yang gemblung itu siapa, sih?” ( * )

Terbaru

Wakil Ketua MUI Zainut Tauhid Sa'adi.(ist)
Senin, 23/04/2018 — 1:03 WIB
Soal Perppu Perkawinan Anak, ini Permintaan MUI
Pemain Manchester City merayakan gol  yang dicetak Kevin de Bruyne ke gawang Swansea City. (reuters)
Senin, 23/04/2018 — 0:37 WIB
Manchester City Cukur Swansea 5-0
Ilustrasi
Senin, 23/04/2018 — 0:18 WIB
Jamaah Haji Bekasi Juga Diminta Sehat Jasmani