Sunday, 22 July 2018

Mempunyai Suami Seniman Tekadnya Asal Bisa Makan

Senin, 2 April 2018 — 5:57 WIB
slow

GAYA hidup seniman selalu santai. Tak mau mengejar kekayaan, yang penting bisa makan. Gara-gara ini hidup Karim, 40, tak ada kemajuan, alias miskin terus. Ny. Sulami, 36, sebagai istri lama-lama capek juga. Suami yang tak mau alih profesi sebagai seniman lukis, akhirnya ditinggalkan alias cerai.

Seniman lukis jika sudah punya nama besar, bisa kaya raya. Satu gambar hasil karyanya, bisa bernilai ratusan juta bahkan miliaran. Tapi jika seniman lukis pemula, harus siap hidup bermiskin-miskin. Mereka siap dengan kemiskinan itu, karena bagi mereka, hidup tak perlu ngaya (memaksakan diri). Asal bisa makan sehari-hari cukuplah.

Karim warga Rungkut Surabaya ini masa depannya memang terasa rungkut (baca: gelap). Sudah 15 tahun berumahtangga, hidupnya selalu dalam jeratan kemiskinan. Karim memang bukan pekerja kantoran, baik itu PNS maupun swasta. Anak istrinya dikasih makan dari hasil menjual hasil karyanya, gambar-gambar lukisan.

Hasil karya dia memang bukan kelas Basuki Abdullah atau Jeihan, yang buah karyanya bernilai ratusan juta hingga miliaran. Karya Karim ini masih kelas rendahan, yang hasil karyanya baru bernilai Rp 500.000,- sampai Rp 1 jutaan. Itupun tidak tiap minggu ada barang yang laku.

Seumur-umur jadi seniman lukis, Karim belum pernah buka pameran. Yang ada hanya pamer kemiskinan dalam keseharian. Rumah saja masih ngontrak, perabotan di rumah sudah tua dan lusuh. Tapi Karim santai-santai saja. Baginya hidup tak perlu menumpuk kekayaan. Bisa makan sehari-hari saja sudah cukup.

Seniman punya nama punya mobil bagus. Dia ke mana-mana pakai motor butut Honda 69 yang bunyinya nguuukkk nguuukkk itu. Dua anaknya tak pernah diajak rekreasi, tak pernah pula makan enak. Jika makan pakai ikan, paling ikan asin. Makan daging ayam bilamana ada tetangga bancakan.

Ny. Sulami sebagai istri sudah mendorong agar suami punya pekerjaan jelas. Misalnya kerja kantoran, melukis sebagai hobi saja, jangan dijadikan andalan. “Kecuali sampeyan sudah sekelas Jeihan, Joko Pekik atau Basuki Abdullah.” Kata istri. Hasilnya mereka malah menjadi ribut. Suami tersinggung dibandingkan dengan Basuki Abdullah, itu kan sama saja memberi penilaian bahwa lukisan suami masih kelas kacangan.

Terus terang Sulami bingung, gaya apa lukisan Karim itu. Naturalis bukan, abstrak juga bukan. Gaya kapiler ngkali? Memangnya sumbu kompor! Yang jelas, gara-gara gaya lukisan yang nggak jelas itu, secara ekonomo Karim tak bisa nggaya.Yang ada hanya gaya memelas (memancing iba) karena tekanan ekonomi sehari-hari.

Beberapa hari lalu Sulami yang sudah tidak tahan dalam kemiskinan sehari-hari akibat suami yang selalu santai, menyatakan sikap. Jika Karim tidak mengubah gaya hidupnya, mendingan cerai saja. Ternyata Karim tak keberatan. Dia rela saja dicampakkan dari sisi istrinya. “Seni memang untuk seni,” begitu kata Karim. Dan akhirnya Sulami membawa persoalan ini ke Pengadilan Agama Surabaya.

Punya suami seniman ternyata bikin senewen ya? (JPNN/Gunarso TS)