Sunday, 21 October 2018

Mendesak, Perda Pertanian Abadi di Wilayah Jabodetabek

Rabu, 4 April 2018 — 7:25 WIB

KEPALA daerah di wilayah Jabodetabekjur ( Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang , Bekasi dan Cianjur), Selasa 3 April 2018 menggelar rapat kerja (raker) di Balai Kota DKI Jakarta.
Ada lima isu utama dalam raker yang dipimpin Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, selaku Ketua Badan Kerja Sama Pembangunan (BKSP) Jabodetabekjur.

Kelima isu tersebut adalah penanggulangan banjir, tranportasi, pengelolaan sampah, penyediaan air bersih dan ketahanan pangan.

Masalah banjir, transportasi, sampah dan air bersih menjadi pembahasan rutin setiap kali menyentuh wilayah Jabodetabekjur. Hasilnya sudah mengalami banyak kemajuan, di antaranya tersedianya moda transportasi terintergrasi di wilayah Jabodetabek untuk mengatasi kemacetan Begitu juga program penanggulangan banjir dan pengelolaan sampah. Meski belum terintegrasi secara penuh, setidaknya koordinasi lebih lanjut terus diupayakan dan dimaksimalkan.

Kami mengapresiasi bahwa ketahanan pangan masuk menjadi topik pembahasan utama dalam raker. Ini seiring dengan kian pesatnya alih fungsi lahan pertanian di wilayah Jabodetabekjur. Data terkini menyebutkan bahwa lahan pertanian yang tersedia hanya mampu mencukupi 10 persen kebutuhan pangan warga Jabodetabekjur. Artinya 90 persen kebutuhan pangan warga Jabodetabekjur didatangkan /disuplay dari daerah lain.

Berkurangnya lahan pertanian di kawasan Jabodetabekjur sangat dratis. Di Kota Bogor misalnya, pada tahun 2008 lahan pertanian masih 750 hektar, tahun 2011 menyusut menjadi 650 hektar, dan tahun 2015 tinggal 320 hektar. Begitu juga di kawasan Pantai Utara Kabupaten Tangerang, Banten lahan pertanian produktif berkurang 70 hektar setiap tahun.

Di Kota Bekasi lahan pertanian produktif sulit didapat. Begitu juga di Kabupaten Bekasi banyak berubah fungsi menjadi kawasan properti dan industri.

Sekarang belum terasa dampaknya, tetapi ke depan akan menjadi problem utama, masalahnya akan lebih rumit dan kompeks, mengingat persoalan pangan menjadi kebutuhan utama warga. Tersendatnya pasokan pangan berdampak luar biasa, apalagi kalau sampai terjadi kelangkaan.
Solusi yang ditawarkan adalah bagaimana masing – masing pemda memproteksi lahan pertanian dengan perda lahan pertanian abadi untuk mencegah sawah produktif beralih fungsi. Perda ini sangat mendesak, jika tidak ingin ketahanan pangan menjadi masalah besar di kemudian hari. (*)