Saturday, 21 July 2018

ISLAM dan NASIONALISME

Kamis, 5 April 2018 — 4:59 WIB

Oleh H. Harmoko

PEMBACAAN puisi oleh Sukmawati Soekarnoputri memicu polemik terkait dengan isu nasionalime dan Islam. Ini isu lama. Sebenarnya keduanya tidak perlu dipertentangkan.

Kalau kita mau memahami sejarah, Islam dan nasionalisme merupakan persenyawaan yang tak terpisahkan.

Mengapa belakangan keduanya diangkat seolah bertentangan? Mari tengok sejarah. Tahun 1925 Agus Salim menulis di surat kabar Hindia Baroe, “Islam bagi banyak orang Barat tetap selalu merupakan masalah yang berbahaya, menyulitkan, dan mengganggu, sehingga dipandang dengan curiga dan tidak dapat didekati tanpa prasangka.”

Memandang Islam dengan penuh curiga, itu pula yang bisa kita tangkap dari puisi Sukmawati. Simak, misalnya, pada bagian yang menyebutkan bahwa konde ibu Indonesia lebih cantik dari cadar.

Selain itu, Sukma juga menyebutkan bahwa dirinya tidak tahu syariat Islam. “Yang kutahu suara kidung ibu Indonesia, sangatlah elok. Lebih merdu dari alunan azanmu.”

Lewat puisi itu, ada yang mengintepretasikan bahwa Sukmawati mempertentangkan syariat Islam dengan semangat nasionalisme. Padahal, seperti pernah dikemukakan oleh ayahnya, Bung Karno, Islam dan nasionalisme adalah dua hal yang bersenyawa. Syariat Islam dan nasionalisme berada pada satu bingkai Pancasila.

Sukmawati bisa jadi lupa membedakan antara Syariat Islam dan penganut Islam yang hendak menjadikan Indonesia sebagai negara Islam. Padahal, Syariat Islam bukan monopoli mereka yang ingin membentuk negara khilafah.

Oleh karena itu, bisa dipahami kalau kemudian muncul reaksi yang begitu luar biasa terhadap puisi Sukmawati tersebut. Sukmawati sangat mungkin salah berdiksi. Untuk menunjukkan kecintaan kepada Indonesia, bukankah seharusnya bisa menggunakan diksi lain yang tidak memicu kontrversi? Pelajaran berharga buat Sukmawati atau siapa pun. Hati-hati memilih kata. ( * )