Friday, 20 April 2018

Mau jadi Peternak Love Bird Sistem Pasangan atau Koloni?

Kamis, 5 April 2018 — 6:14 WIB
Budidaya burung love bird

Budidaya burung love bird

JAKARTA – Dalam dunia perburungan, love bird merupakan salah satu jenis burung yang paling mudah dibudidayakan. Keluarga paruh bengkok yang punya sifat jinak dan mudah beradaptasi dengan lingkungan ini relatif mudah diternakkan di tengah lingkungan ramai maupun sepi, sehingga para brider umumnya beternak si burung cinta dalam jumlah banyak.

Peternak semiprofesional umumnya memiliki minimal 10 pasang indukan. “Kalau di bawah 10 pasang, masih tergolong iseng melampiaskan hobi,” ujar Sarento, pengurus Komunitas Love Bird Indonesia (KLBI) di Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (4/4).

Sedangkan yang digolongkan peternak love bird profesional memiliki lebih dari 50 pasang. “Karena dengan indukan sebanyak itu sudah bisa dijadikan sebagai profesi yang bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah setingkat eksekutif.

Sebagian brider profesional dalam menjalankan usahanya ada yang menerapkan sistem pasangan maupun koloni. “Dari kedua sistem ini sama-sama punya nilai plus-minusnya, tergantung pada pilihan masing-masing,” kata Sarento yang dikenal sebagai brider profesional karena memiliki indukan lebih dari 100 ekor. Dia memilih sistem koloni alias ombyokan yang mana menggunakan kandang besar ukuran 3x4x3 m2 diisi sekitar 30 pasang. Adapun pengusaha bengkel mobil ini memiliki kandang besar tiga unit, bekas kamar tidur yang dulunya untuk kos-kosan.

“Berhubung saya orang sibuk lebih memilih sistem koloni karena perawatannya jauh lebih cepat dan praktis. Untuk merawat ratusan ekor hanya butuh waktu sekitar dua jam sehari,” ujar Sarento yang tiap pagi turun tangan sendiri, masuk kandang membersihkan lantai pakai semprotan air dan memberi pakan berupa bijian, kangkung, dan jagung. Kalau indukan sebanyak ini diternak secara pasangan, maka perawatannya sangat memakan waktu. “Untuk sistem pasangan butuh waktu lebih dari enam jam, harus bayar orang dan risikonya mereka nakal,” papar Sarento yang beternak love bird sejak 2010.

Sedangkan Chandra Wijaya dari Sunter, Tanjung Priok, memilih ternak sistem pasangan. “Memang jauh lebih repot karena tiap hari harus membersihkan kandang dan mengganti pakan serta minuman yang jumlahnya begitu banyak. Tapi hasilnya lebih produktif karena induk lebih tenang dan fokus di dalam kandang masing-masing,” ujar Chandra yang memiliki 60-an pasangan produktif. Untuk mengurus burung sebanyak itu, Chandra dibantu seorang tetangga yang digaji Rp 3 juta plus insentif Rp 50 ribu tiap penjualan per ekor love bird.

PLUS MINUS

Kedua sistem itu sama-sama punya nilai plus dan minus. “Plusnya dari sistem koloni, perawatan lebih praktis, burung lebih sehat karena leluasa bergerak, proses penjodohan sangat akurat karena mereka dapat memilih pasangan dari lawan jenis,” kata Sarento sambil menambahkan segi minusnya juga cukup banyak.

“Antara lain secara umum tingkat produksi relatif rendah karena induk yang lagi mengeram atau merawat anak suka terganggu oleh induk lain, sejumlah burung tidak dapat pasangan. Bahkan kadang ada induk nakal yang suka mengacak-acak telur atau piyik di sarang lain. Dari sekitar 100 ekor induk, rata-rata produksi tiap bulan sekitar 20 anakan hidup. Tiap pasangan yang rata-rata bertelur empat butir hanya dua anak yang berpotensi hidup.

jokosudadi

Penulis berada di dalam kandang ternak love bird sistem koloni.

Chandra menambahkan dengan sistem pasangan nilai plusnya jauh lebih produktif dan mudah melakukan kawin silang antar induk pilihan. “Dari 60-an pasangan, produksi tiap bulan antara 40 dan 50 ekor hidup. Tiap pasang siklus produksi sekitar tiga bulan dan dari butir telur potensi piyik hidup sekitar tiga ekor,” papar Chandra yang tiap bulan memperoleh penghasilan bersih di atas Rp 15 juta.

Adapun minusnya, perawatan lebih rumit, kondisi burung suka ngedrop karena kurang gerak, terkadang pasangan tidak berproduksi karena jenis kelamin sama, pemberian pakan lebih boros karena lebih banyak yang terbuang,

Sarento menambahkan untuk menyiasati burung yang tidak dapat pasangan di dalam kandang koloni, dia cenderung memperbanyak betina.

“Kalau jumlah jantannya lebih banyak, maka jantan yang jomblo sering mengganggu induk yang sedang kawin maupun mengganggu sarang. Sebaliknya sejumlah betina yang jomblo kadang dikawinin sama pejantan yang pasangannya sedang mengeram sehingga si jomblo berpotensi punya anak juga. Setidaknya saat si jomblo bertelur, bisa ditukar pakai telur lain yang berkecambah sehingga bisa menetas,” pungkas Sarento mengungkap rahasia dapurnya. (joko/b)