Tuesday, 16 October 2018

Darurat Miras Penebar Maut

Jumat, 6 April 2018 — 5:59 WIB

DALAM sepekan ini 31 warga di Jakarta, Tangerang, Depok dan Bekasi meninggal dunia setelah menenggak minuman keras (miras) oplosan. Puluhan pemabuk lainnya masih dirawat di rumah sakit. Tak berlebihan bila saat ini Jakarta berstatus darurat miras oplosan.

Minuman maut tersebut beredar bebas di warung-warung sehingga mudah diperoleh. Yang mengerikan, kalau biasanya miras oplosan diracik oleh pengecer atau peminumnya sendiri, kini minuman maut itu diproduksi oleh pedagang besar. Bisa disebut industri kecil skala rumahan.

Zat yang terkandung serta takarannya tidak terkontrol. Bahkan yang mengerikan, campuran minuman tersebut selain alkohol kaadar 90 persen, juga ada yang mengandung tinner, spirtus, obat nyamuk oles, obat luka, dan bahan lainnya yang tak lazim dikonsumsi. Efeknya sangat dasyat, bahkan lebih mengerikan ketimbang narkoba karena peminumnya bisa meninggal dunia dalam waktu tak terlalu lama.

Minuman oplosan kini jadi fenomena menakutkan. Selain bahan bakunya sangat mudah diperoleh bahkan bisa dioplos sendiri, peminumnya juga kalangan anak-anak muda. Ancaman miras penebar maut menghantui siapa saja tanpa mengenal status ekonomi, pekerjaan maupun pendidikan.

Berbeda dengan minuman beralhokol, miras oplosan bisa beredar bebas karena memang belum ada hukum yang mengatur penjualan bahan bakunya. Kalau pun pedagangnya ditangkap, mereka hanya dikenakan pelanggaran Perda yang hukumannya sangat ringan.

Respon cepat kepolisian dengan merazia warung-warung penjual minuman oplosan serta menggerebek gudang penyimpanan bahan miras, patut didukung. Ratusan liter bahan baku minuman maut yang disimpan dalam jerigen, disita polisi dan enam pedagang sudah ditangkap.

Mengatasi merebaknya miras maut, perlu langkah-langkah terpadu lintas instansi, elemen masyarakat sampai tingkat RT serta keluarga. Warga punya tanggung jawab melaporkan ke aparat bila di lingkungannya terdapat aktivitas industri pengoplosan minuman, atau warung penjual minuman berbahaya.

Di sisi lain, perlu langkah menyadarkan masyarakat akan bahaya minuman keras yang dimulai dari keluarga, lingkungan permukiman, sekolah dan lainnya. Penyakit masyarakat ini harus disembuhkan melibatkan semua pihak, baik orangtua, tokoh masyarakat maupun tokoh agama, dengan cara menyosialisasikan bahaya miras. Jangan menunggu jatuhnya korban. **