Monday, 23 July 2018

Serapan Anggaran Rendah, Sandi Berdalih Sudah Sesuai Rencana SKPD

Jumat, 6 April 2018 — 1:20 WIB
Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.(dok/ikbal)

Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno.(dok/ikbal)

JAKARTA – Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno menyebut serapan anggaran pada triwulan pertama 2018 rendah, ia berdalih hal itu  sesuai dengan perencanaan dari masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).  Sandi mengatakan pola perencanaan lama yang seperti itu yang akan diubah pada pemerintahannya.

Diketahui hingga Maret 2018, serapan anggaran APBD DKI Jakarta tahun 2018 hanya sebesar 8,1 persen. Hal ini lah yang mengundang reaksi dari DPRD DKI untuk mempertanyakan kinerja pemerintahan DKI Jakarta di bawah Aniea Baswedan dan Sandiaga Uno.

“Jadi dari sini memang (penyerapannya) sesuai dengan perencanaan. Jadi mengapa penyerapannya itu rendah di awal? Karena memang perencanaannya rendah. 8 Persen total dan dari target 12 persen. Kalau dilihat. Ini yang saya sebut sebagai hockety stick. Penyerapan itu banyak di akhir tahun. Ini yang kita mau ubah,” katanya di Balaikota Jakarta, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis (5/4/2018) malam.

Sandi menjelaskan, dari belanja langsung dan belanja tidak langsung, hanya satu belanja yang belum bisa dapat kita kategorikan sebagai sukses, yaitu pengadaan tanah. Menurut Sandi beberapa SKPD bermasalah pengadaan tanah, diantaranya Dinas Sumber Daya Air, Dinas Kehutanan, Pertamanan, dan Pemakaman dan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman.

“Anggaran belanja langsung, kalau kita lihat realisasi penyerapan anggaran belanja langsung Maret 2018, 1.78 triliun itu sekitar 5.93 persen. Realisasi Maret 2018, itu di bawah target. Sekitar minus 3.37 persen. Targetnya itu sebetulnya adalah 9.3 persen yaitu 2.8 Triliun. Nah ini yang pengeluaran belanja langsung,” terang Sandi.

Sandi menandaskan pola yang digunakan saat ini akan dirubah pada kinerja oemerintahan tahun 2019. Politisi Gerindra ingin penyerapan anggaran dapat mulai berjalan pada awal tahun sehingga tidak terjadi peningkatan drastis pada akhir tahun.

“Kita coba ubah pola pikirnya agar perencanaannya itu tidak di ujung saja digenjotnya. Tapi mulai kuartal per kuartal. Dan ini akan memang mulai harus kita bicarakan tahun 2019 mulai sekarang. Muali bulan Maret-April,” pungkas Sandi. (ikbal/win)