Wednesday, 19 September 2018

Lama Ditinggal Berlayar Digendak Teman Sekantor

Sabtu, 7 April 2018 — 7:45 WIB
temankerja

INILAH resiko jadi pelaut. Enam bulan berlayar, pulang-pulang Jodiman, 35, tak mendapatkan istri di rumah. Ternyata Kasiyati, 30, malah betah nginep di kantor, gara-gara punya PIL baru di sini. Tentu saja Jodimin ngamuk, mau rapel rindu gagal total. Polisi Polsek Cipondoh pun terpaksa ikut turun tangan.

Jadi istri ABK (Anak Buah Kapal) harus siap pula ABK alias: Ajeg Badan Kedinginan. Soalnya jarang ketemu suami. Bila suami-suami lain selalu di sampingnya setiap hari, bini pelaut baru ketemu suami paling-paling 3 bulan sekali bahkan 6 bulan. Cuma yaitu tadi, begitu ketemu istri ganasnya minta ampun. Bisa istri “disekap” seharian dalam kamar, tanpa polisi boleh membebaskannya.

Sejak awal Kasiyati sudah tahu resiko menjadi istri seorang ABK, bakal sering ditinggal lama berlayar. Tapi karena kadung cinta sama Jodiman, dia siap saja bakal sering kedinginan. Awalnya Kasiyati bisa menerima, tapi lama-lama jenuh juga karena suami selalu tak di rumah.

Ketimbang bengong, dia minta izin untuk bisa mengisi kesibukan dengan bekerja di kantoran. Jodiman pun mengizinkan, karena dia juga sangat memaklumi seperti apa sepinya jauh dari pasangan hidup. Dia sendiri ketika kapalnya mengarungi samodra, di sepanjang mata memandang hanya lautan lepas. Andaikan punya sayap, ingin rasanya Jodiman terbang untuk bisa menemui kekasihnya di Tangerang sana.

Kasiyati kemudian diterima kerja pada perusahaan minuman kesehatan, yang kantornya di Cipondoh, Tangerang. Gajinya sih tak seberapa, tapi dia bisa membunuh rasa sepinya. Pulang kerja pukul 20.00, nanti pagi hari pukul 07.00 sudah jalan ke kantor kembali. Begitu selalu yang dijalani secara rutin.

Yang sungguh di luar skenario, di kantor itu ada pegawai bujangan bernama Herdi, 30, yang diam-diam tertarik pada Kasiyati. Sepertinya dia tahu persis kelemahan wanita ini. Karena suami jauh di tengah samodra, pastilah dia selalu kesepian. “Saya siap mengisinya hari-hari sepi itu,” kata batin Herdi, sepertinya sepi itu bagaikan air isi ulang saja.

Mulailah dia mendekati Kasiyati, diajak ngobrol ngalor ngidul, membiacarakan segala topik. Ternyata nyambung, sehingga pertemuan pun semakin intens. Kasiyati sendiri yang selama ini selalu merasa sepi, sejak kehadiran Herdi jadi nampak bergairah lagi. Bahkan diajak jalan bareng pun tak sungkan lagi. Dan karena sering kesepian itulah, pada akhirnya ketika Herdi mengajak berbuat hil yang mustahal, Kasiyati hanya bisa bertekuk lutut dan berbuka paha belaka.

Sejak itu Kasiyati jadi lupa akan suaminya di tengah samudra. Dia sendiri lebih betah tinggal di mess bersama PIL-nya. Bila sama-sama kangen tinggal pergi ke hotel dalam rangka sporing-balancing sekaligus tune up. Kasiyati yakin betul bahwa petualangannya itu takkan ketahuan suami.

Sampailah kemudian, Jodiman kembali berlayar tanpa memberitahukan istrinya terlebih dulu. Begitu tiba di rumah, ternyata kosong. Kata tetangga, Kasiyati jarang pulang. Kalau pulang pun diantar seorang lelaki. Deg, Jodiman mulai curiga. Dia buruan menyusul ke tempat kerja istri. Kaco dah jadinya. Rencanya untuk rapel rindu jadi gagal total behitu menerima kabar buruk itu.

Di kantor memang ketemu istrinya. Tapi celakanya, mesti sudah lepas jam kerja tak mau juga dia diajak pulang. Usut punya usut, dia memang sudah punya gendakan Herdi yang lebih muda itu. Jodiman pun ngamuk, nyaris baku tinju dengan Herdi yang merebut istrinya. Polisi pun sampai turun tangan untuk mendamaikannya.

Tapi tangan Herdi sudah kadung turun ke mana-mana. (TJ/Gunarso TS)