Sunday, 22 July 2018

Koalisi Capres Poros Ketiga Masih Antara Ada dan Tiada

Rabu, 11 April 2018 — 6:54 WIB
muhia

SETELAH “disemangati” Luhut Panjaitan seniornya, kabarnya hari ini Prabowo sudah mantap mau mendeklarasikan pencapresannya. Lalu kemungkinan Capres poros ketiga bagaimana? Sepertinya masih antara ada dan tiada. Sebab meski Demokrat-PAN terlihat serius, PKB masih lirak-lirik sana sini, bahkan bentuk taglin “Jomin” segala.

Meski Pilpres tinggal setahun lagi, Prabowo Ketum Demokrat masih ragu untuk maju lagi di Pilpres 2019. Tapi setelah ditemui seniornya, Luhut Panjaitan, semangat Prabowo bangkit kembali. Kabarnya deklarasi pencapresannya akan digelar hari ini.
Cuma siapa yang menjadi Cawapresnya masih tanda tanya.

Yang bikin penasaran kini justru sikap trio Demokrat-PAN-PKB, sampai hari ini belum jelas. Keinginannya untuk membentuk Capres poros ketiga masih di awang-awang, antara ada dan tiada. Sebab mereka masih memikirkan kepentingan masing-masing, bukan untuk kepentingan bersama.

Kepentingan sendiri menjadi sangat dominan, sebab PKB masih berharap dengan sangat bisa digandeng Jokowi. Bahkan tanpa sungkan dan malu, kini partainya Muhaimin Iskandar itu sudah bikin taglin: Join, kepanjangan Jokowi-Muhaimin. PKB tak mau menyingkatnya jadi Jomin, karena nanti dikirannya daerah rawan macet di Cikampek.

Begitu pula Partai Demokrat. Kini SBY sedang rajin puter kayun ke berbagai daerah untuk menjajakan putranya, AHY. Yakin dengan elektabilitas putranya yang konon lumayan tinggi, kalau bisa jadi Capres poros ketiga, atau paling apes jadi Cawapresnya Jokowi.

Tapi mungkinkah Cawapres “pupuk bawang” yang hanya mengandalkan nama besar bapaknya, mau diambil Jokowi? Capres petahana ini belum berani memutuskan, sehingga jika Jokowi tampak kasih “angin” ke A, B, dan C, semuanya sebatas PHP alias (pemberian harapan palsu) belaka.

Syarat pencapresan minimal punya 112 kursi DPR. Karena itulah Capres poros ketiga ini sangat rawan kebatalannya. Sebab jika PKB atau PAN jadi merapat ke petahana, Demokrat yang hanya punya 61 kursi DPR, tak mungkin bentuk poros ketiga. Ditinggal PAN, hanya punya 108 kursi bersama PKB. Ditinggal PKB, hanya punya 110 kursi bersama PAN. Apa lagi ditinggal dua-duanya, posisi Demokrat jadi seperti Pilpres 2014, tak ke sana tak kesini. -gunarso ts