Saturday, 20 October 2018

Ini Untungnya Memelihara Murai Bordan

Kamis, 12 April 2018 — 6:25 WIB
Induk murai batu Medan dan Borneo (Kalimantan) untuk memproduksi blasteran yang dinamakan Bordan. (joko)

Induk murai batu Medan dan Borneo (Kalimantan) untuk memproduksi blasteran yang dinamakan Bordan. (joko)

JAKARTA – Di kerajaan murai batu bagi kicau mania, posisi derajat murai bordan berada di tengah-tengah antara kalangan ningrat dan rakyat jelata.

Jenis murai ini merupakan hasil perkawinan silang antara trah unggul dari Medan dan trah bawah dari Kalimantan atau Borneo sehingga kemudian disingkat dengan nama bordan. Lalu, apa untung ruginya memelihara Copshycus malabaricus blasteran?

Kehadiran murai bordan ini memberikan alternatif kepada kicau mania serta memperkaya variasi di keluarga murai batu.

“Bordan mulai ramai di kalangan kicau mania sekitar sepuluh tahun terakhir. Awalnya beberapa peternak mencoba melakukan kawin silang, ternyata hasilnya cukup bagus untuk ditrek,” Jumadi, juragan murai di Pasar Burung Pramuka, Jakarta Timur, Rabu (11/4/2018).

Namun untuk memperoleh bordan kualitas unggul tentu harus melihat berbagai aspek meliputi katuranggan, trah indukan, dan perawatan.

“Apalagi kalau si bordan menuruni sifat positif dari induk Medan dan Kalimantan, maka hasilnya lebih mantap lagi,” papar Jumadi yang banyak menyediakan aneka jenis murai mulai dari ekor pendek, sedang, sampai panjang.

“Tetapi kalau lebih banyak mewarisi sifat negatifnya ya gak bakal bagus,” tambahnya.
Adapun sifat positif dari trah Medan antara lain fisik bagus, ekor panjang, suara keras, dan mudah dimaster. “Segi negatifnya secara umum hampir tidak ada. Kalau ada yang gembung relatif jarang. Yang sering dikeluhkan kucau mania adalah karakter kurang terkontrol alias tidak tenang,” jelas warga Utan Kayu, Cempaka Putih yang sudah puluhan tahun berdagang dab beternak murai batu.

Sedangkan positifnya Borneo adalah karakternya lebih tenang. Tapi negatifnya banyak, antara lain ekor relatif pendek, suara sering berulang-ulang, lebih susah dimaster dan suka gembung.

“Jadi, untuk mendapatkan Bordan jawara usahakan beli yang masih muda, usia di bawah tiga bulan, lalu dimaster terus-menerus supaya burung tersebut bisa menirukan aneka suara burung lain,” ujar Jumadi yang menjual Bordan bakalan antara Rp 750 ribu dan Rp 1,5 juta.
Adapun harga bahan Borneo antara Rp 350 ribu dan Rp 500 ribu, sedangkan bakalan Medan mulai dari Rp 1,2 juta sampai Rp 3 juta.
PAKAI RING

Anggota komunitas Pecinta Burung Indonesia (PBI) Budiman Jatmiko menjelaskan semua burung Bordan pasti hasil dari kandag ternak. “Tidak ada Bordan hasil tangkapan hutan, makanya semua bahan Bordan pasti jinakbdan doyan pur,” kata warga Sunter, Tanjug Priok yang membudidayakan murai batu, love bird, dan perkutut.

“Untuk mendapatkan Bordan berkualitas sebaiknya pilih burung yan pakai ring. Apalagi ring dari peternakan terkenal, pasti bagus trahnya,” tamba Budiman.

Kenapa harus memilih yang pakai ring? Karena Bordan non-ring biasanya keluaran dari peternak pemula ecek-ecek yang bermodalkan induk murahan. Sedang yang pakai ring, umumnya berasal dari pembudidaya besar yang menggunakan indukan pilihan dengan harga mahal.

“Trah iti sangat penting karena punya pengaruh besar terhadap sifat burung meliputi fisik, mental, maupun kecerdasan,” beber Budiman sambil menambahkan peringkat Bordan ini berada di tengah antara posisi Medan dan Kalimantan. Posisinya juga masih sedikit di atas trah Lampung.

Pada umumnya Bordan yang paling bagus adalah keturunan F-2. “Bordan turunan F-1 menuruni genetik kedua induk masing-masing 50 persen. Apabila F-1 ini dikawinsilangkan dengan Medan, maka menghasilkan turunan F-2 yang kondisinya sangat mirip dengan Medan asli,” papar Budiman sambil menambahkan sejak beberapa tahun terakhir cukup banyan Bordan yang merajai lomba tingkat latihan bersama (latber), latihan prestasi (latpres) maupun lomba tingkat regional atau nasional. (joko/b)