Friday, 21 September 2018

SALTO PING SEKET

Kamis, 12 April 2018 — 6:50 WIB

Oleh H. Harmoko

HARIAN Pos Kota menggelar pentas wayang kulit di Silang Monas, Jakarta Pusat, Sabtu (14/4) mendatang, menampilkan dalang Ki Gunarto Gunotalijendro, dengan cerita Pancasonya Wreksakaning Bumi. Apa itu?

Lakon atau cerita ini jarang dipentaskan oleh dalang-dalang wayang kulit. Padahal, pesan moralnya sangat kontekstual dengan situasi Indonesia dewasa ini, dalam banyak hal. Iya, Pancasonya Wreksakaning Bumi merupakan pusaka yang membuat sang pemilik tidak akan meninggal selama masih menginjak bumi.

Apa artinya? Artinya, di tengah gelombang dan hantaman badai globalisasi, Indonesia harus tetap jaya. Indonesia harus tetap jaya, asal tetap berpijak pada nilai-nilai tentang kejatidirian bangsa sendiri. Tetap membumi.

Pilihan cerita yang ditawarkan oleh dalang yang dikenal sebagai dalang jago salto ping seket ini sangat menarik. Bukan hanya pesan ceritanya, tetapi juga atraksi-atraksi yang dimainkannya.

Disebut jago salto ping seket, itu karena Ki Gunarto yang juga sebagai duta budaya Indonesia untuk negara-negara Eropa dan Jepang itu dikenal sebagai dalang yang piawai memainkan wayang bersalto sampai lima puluh kali—bahkan lebih—dalam adegan perang, selama pertunjukan berlangsung. Gerak salto, ini juga merefleksikan bahwa pada era globalisasi ini banyak orang harus berjungkir balik untuk bisa mempertahankan eksistensinya.

Tidak hanya di dunia politik, tetapi juga ekonom, sosial, dan budaya, banyak orang harus piawai bersalto. Tidak pula hanya di kalangan elite, masyarakat kecil, wong cilik, harus berjungkir balik untuk mempertahankan hidup.

Masalahnya, bagaimana agar rangkaian salto demi salto itu tidak sampai mencelakakan diri? Tidak terlibat korupsi, misalnya, atau tidak terlibat kejahatan lainnya. Untuk itu, perlu seni mengelola hidup yang selalu berpedoman pada nilai-nilai dan jurus-jurus yang membumi, bukan nilai-nilai yang diimpor dari negara lain.

Dalam konteks HUT ke-48 Pos Kota, pesan itu juga mengena. Di tengah era digital, dengan perkembangan teknologi yang luar biasa, bagaimana agar Pos Kota tetap hidup, tidak tergilas oleh persaingan? Pos Kota akan terus mengikuti perkembangan zaman, ikut mencerdaskan masyarakat pembaca agar masyarakat juga semakin cerdas sehingga tidak menjadi korban zaman.

Dengan cara seperti itu, dengan tetap berpedoman nilai-nilai lokal khas bangsa Indonesia, insyaallah siapa pun akan tetap selamat, bisa bertahan hidup. Inilah pesan di balik cerita Pancasonya Wreksakaning Bumi. Pilihan cerita yang luar biasa. Tunggu malam Minggu mendatang di Silang Monas. Selamat menonton. ( * )