Saturday, 21 July 2018

Bicara yang Manis, Dong?

Jumat, 13 April 2018 — 5:02 WIB
manas

“SUAMI saya pemarah, semua serba marah. Minta ini itu marah. Bahkan yang nggak saya terima adalah dia sekarang bukan sekadar marah pakai mulut, tapi tangannya juga ikut bicara. Plak, Plak, Plak!”

Rumahtangga sang ibu dengan suaminya ini baru tiga tahun berjalan. Tapi, ribut hampir sepanjang hari. ”Bayangin saja, Pak. Minta kopi marah, mau makan marah. Kerjanya marah terus, jadi kayaknya nggak ada yang bener, semua yang saya kerjakan selalu salah, Pak Ustad! Suami saya sudah nggk sayang lagi. Rasanya saya kepingin pisah saja!” keluh seorang wanita, mengadukan nasibnya pada ustad di satu acara pengajian.

Ini adalah ilustrasi rumahtangga muda. Sang ustad memberikan nasihat, sebaiknya dalam satu rumahtangga itu harus ada saling pengertian. Saling asah, asuh, saling sayang dan cinta. Jika itu semua nggak ada, maka rumahtangga bakalan goyang, dan sulit untuk dipertahankan.

Dan itu terlihat dalam kenyataan, dalam satu hari di PA Tengerang saja, ada sekitar 30 wanita menanti jadi janda. Artinya mereka, tidak mampu lagi membina bahtera rumahtangga bersama pasangannya.

Kalau itu bisa diselesaikan oleh keluarga atau pengadilan, ya syukur.Tapi,kalu diselesaikan sendiri dengan jalan brutal. Kan celaka?

Tapi, sekadar nasihat, komunikasi itu sangatlah penting. Tentu saja komunikasi dengan bahasa yang baik. Apa sih beratnya kalau panggil pasangannya dengan lembut; “Istriku sayang, pagi ini kamu cantik sekali?”

Ingat dong, sewaktu masih pacaran dulu? Coba sekali lagi, ingat-ingat, kayaknya hampir setiap saat, kata-kata indah selalu meluluncur..!

Janganlah dengan kata-kata yang nggak beradab: “Dasar istri, ini itu, nggak tau diri…dan seterusnya. Kalau begitu, kapan kopi hangat mau tersedia di samping suami? -massoes