Saturday, 20 October 2018

Aryo Bangun Adinoto, Anak Betawi Sukses Membangun Desa

Senin, 16 April 2018 — 8:24 WIB
Kades Tenjolaya, Aryo Bangun Adinoto bersama istri dan tiga anak. (sule)

Kades Tenjolaya, Aryo Bangun Adinoto bersama istri dan tiga anak. (sule)

SEGUDANG terobosan program ditelurkan Aryo Bangun Adinoto, Kepala Desa Tenjolaya, Kecamatan Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat untuk membangun dan memajukan desanya. Padahal Aryo merupakan Anak Betawi yang biasa hidup wilayah di perkotaan.

Meski baru dua tahun menjabat, sejumlah inovasinya ternyata mampu mengangkat citra desa dan membawa perubahan signifikan yang bisa dirasakan langsung warganya, mulai pembangunan fisik hingga ke pemberdayaan masyarakat.

Lantas bagaimana perjuangan hidup sosok suami Ny. Dian Rusdianti, 37, ini yang kini memilih mengabdikan diri untuk desa?

Perjalanan kehidupan pria kelahiran Jakarta, 4 November 1978 ini penuh liku, sudah merasakan betul pahit getirnya.

Meski dilahirkan dari keluarga berkecukupan, tak lantas menjadikan anak bungsu dari empat bersaudara buah cinta pasangan H. Dalderi Martono dengan Hj. Nasilah ini berleha-leha.
Sejak usia 14 tahun, saat itu masih duduk di bangku kelas 2 SMP di Jakarta, dia telah berpikiran dan hidup mandiri. Di usia tergolong belia itu, dia sudah mampu mencari uang sendiri dari hasil berdagang asongan di jalanan.

Pekerjaan itu ditekuni bersama teman-temannya, tanpa rasa malu ataupun mengeluh. Terlebih, ketika musim liburan sekolah tiba.

“Gimana ya, sejak kecil memang nggak mau ngerepotin orangtua, saudara apalagi orang lain. Sejak kecil saya merasa lebih bangga kalau bisa cari uang sendiri. Dan terpenting, bagi saya jangan sampai merugikan orang lain,” seloroh anak salah seorang pendiri Universitas Trisakti ini saat ditemui usai blusukan ke warganya.

Menginjak usia remaja, selama duduk di sebuah SMA Jakarta jurusan IPS, Aryo terus giat bekerja tanpa mengenyampingkan pelajaran sekolah. Menjual secara asongan, seperti rokok, air minerjal dan koran di sejumlah trotoar terus ditekuninya. Hasil jerih payahnya itu digunakannya untuk menambah biaya sekolah dan jajannya sehari-hari.

“Kebetulan orangtua saya demokratis sekali. Mereka tidak malu dengan pilihan hidup saya. Mereka berpesan yang penting jangan merugikan orang lain. Dan pesan itupun saya pegang sampai sekarang,” ucapnya, kemarin.

JODOH DI ANGKOT

Setelah lulus SMA, sekitar tahun 1998, Aryo memutuskan kuliah di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dan mengambil jurusan Fakultas Ekonomi. Seperti halnya di Jakarta, di Kota Pendidikan ini sambil kuliah dia masih menggeluti usahanya sebagai pedagang asongan dan berbisnis apa saja. “Begitupun saat saya menjadi mahasiswa, apapun yang penting halal saya lakuin. Jualan dan bisnis apapun saya lakukan. Ya itu hasilnya kan untuk hidup sehari-hari, apalagi jauh dari keluarga,” tuturnya.

Begitu memasuki semester VI, sekira tahun 2001, Aryo melaksanakan kuliah kerja nyata (KKN) di kawasan Rajapolah, Tasimalaya, Jabar. Di lokasi inilah, Aryo mengenal tulang rusuknya, Ny. Dian Rusdianti yang hingga kini sudah memberikan tiga anak laki-laki; M Imam Mawardi, 16, M Azri Sigit Perkasa, 9, dan M Fadhlan Rudianto, 4.

Waktu itu, tanpa sengaja Aryo bertemu dan mengenal Dian ketika di dalam angkot. Hanya membutuhkan waktu sekitar dua minggu, akhirnya mereka memutuskan ke menikah. Tanpa uang sepeser pun dari orangtuanya, mengandalkan uang sendiri senilai Rp1, 2 juta Aryo mempersunting istrinya.
“Masih ingat waktu itu, setelah dua minggu berkenalan saya diminta orangtuanya untuk menikah. Saya kan suka tantangan, ya akhirnya saya sanggupi. Bangganya lagi, biaya nikah hasil keringat sendiri,” kenang Aryo tersenyum menerawang masa lalunya.

KERJA SERABUTAN

Menapaki kehidupan nyata mengarungi bahtera rumah tangga dijalani Aryo dengan ketabahan dan kesabaran. Betapa tidak, selepas menikah dia putuskan membawa isterinya mengontrak rumah berukuran sekitar 3 x 3 meterpersegi di Tasikmalaya.

Saat awal-awal itu tidurnya hanya berbantalkan kain dari kaos dengan sprei tidurnya beralaskan anduk. Lemari pakaiannya dari kardus bekas. Menyedihkan memang. Tapi baginya suatu kebanggaan, sebab beberapa kali ditawari bantuan orangtuanya selama itu pula ditolaknya.

“Begitu nikah, saya putuskan berhenti kuliah dan bawa istri saya ngontrak rumah. Secara kasat mata sedih. Tapi kami bahagia, dan akhirnya di usia mau dua tahun perkawinan kami dikaruniai anak pertama,” beber ayah yang selalu menerapkan peraturan mematikan gadget pada keluarganya mulai pukul 18:00-20:00 ini.

Selama menikah, seperti halnya Aryo remaja, dia semangat bekerja serabutan untuk menafkahi keluarganya. Mulai kuli bangunan, berdagang, dan sempat bekerja di tempat mengurus orang gila, semua dijalaninya dengan tabah. Memang pendapatannya bekerja serabutan jauh dari cukup.

Hingga akhirnya menginjak usia anaknya empat tahun, sekira tahun 2006, karena sesuatu hal Aryo memutuskan pindah ke Jakarta. Bermodalkan keberanian dan dukungan keluarga, Aryo menjadi penyuplai ikan, seperti ayam dan lele ke beberapa penjual pecel. Mental baja usaha sejak muda menjadikannya tahan banting sampai perekonomiannya stabil.

Pada 2009, Aryo bersama keluarga akhirnya pindah ke Sukabumi, tepatnya di Kampung Cigadog RT 01/03, Desa Tenjolaya, Cicurug. Lagi-lagi, jiwa bisnisnya muncul.

Di lokasi ini Aryo menjadi penyuplai bahan-bahan herbal ke sejumlah toko di Sukabumi. Usahanya kian melejit, dan pada 2012 menjadi pembudidaya udang hias dari Jepang dan menjadi penyuplay ke seantero nusantara.

“Selama tinggal di sini (Sukabumi) dua anak saya lahir, jadi semuanya tiga. Nah, pada 2014 karena saya suka tantangan ada ajakan dari teman untuk kerja di Kompas TV di Jakarta. Saya akhirnya mengambilnya karena saya suka bagian informasi teknologi (IT)-nya. Makanya sedikit-sedikit tahu lah kehidupan jurnalisitik,” ungkap pria yang kini tercatat mahasiswa STISIP ini.

Selama tinggal di Desa Tenjolaya, Aryo juga dikenal aktif bergaul dengan semua kalangan. Lalu, akhirnya pada 2016 dia diminta sebagian besar warga untuk menjadi kandidat kades di wilayahnya.
Dengan dorongan warga, Aryo akhirnya turut dalam kontestasi enam tahun sekali tersebut. Hasilnya, di wilayah seluas 596 hektar dengan jumlah penduduk 6.134 jiwa, Aryo berhasil mengalahkan tiga rivalnya dengan raihan lebih 50 persen pemilih.

“Alhamdulillah saya mendapatkan suara mencapai 1.500 suara dari total partisipasi pemilih sekitar 3.300 orang. Kalau total pemilih di sini sebanyak 4.800 orang,” jelas Aryo.

Dalam memimpin desa, Aryo punya strategi sendiri untuk membawa perubahan ke arah lebih baik, membangun dari pinggiran terlebih dulu lalu ke tengah wilayah. Baginya, persoalan di desa hanya ada dua yakni komunikasi terputus dan infomasi yang tidak sampai.

Di samping sering blusukan menyapa warga, Aryo juga memanfaatkan betul dengan kemajuan teknologi. Caranya, dia menghidupkan berbagai aplikasi maupun jejaring sosial untuk berkomunikasi dengan warganya, terutama dengan jajarannya.

Bahkan, di Balai Desa Tenjolaya kini tersedia jaringan internet gratis, perpustakaan, dan fasilitas umum lainnya. Program yang sudah berhasil berjalan saat ini yakni pengaturan pemungutan sampah, pembukaan kawasan wisata Batu Ceria, pembangunan kawasan ramah bermain anak, pasar rakyat tiap malam minggu, dan masih banyak inovasi lainnya.

“Saya bertekad menjadikan desa sumber kekuatan ekonomi. Bukan sebatas melakukan kebaikan, tapi saya ingin menorehkan sejarah dalam memimpin desa ini,” tandasnya.
(Eman Sulaeman/ds)