Sunday, 22 July 2018

Staf Usir Dua Pria Kulit Hitam yang Tak Belanja, Starbucks Diserukan Diboikot

Senin, 16 April 2018 — 14:51 WIB
Sejumlah orang berunjuk rasa di luar toko itu untuk memprotes prlakuan staf Starbucks.

Sejumlah orang berunjuk rasa di luar toko itu untuk memprotes prlakuan staf Starbucks.

AMERIKA– Jaringan gerai kopi internasional Starbucks menyampaikan permintaan maaf setelah staf mereka membuat dua pria kulit hitam ditangkap ketika sedang menunggu seorang temannya di salah satu gerai di kota Philadelphia, Amerika Serikat.

Staf Starbucks menuding dua orang itu masuk menerabas tanpa izin, dan video amatir menunjukkan polisi memborgol tangan keduanya.

Rekaman itu menjadi viral sejak diposting di Twitter dan memunculkan tuduhan bahwa Starbucks memilah-milah orang berdasarkan profil rasial.

Kepala eksekutif Starbucks Kevin Johnson mengatakan video itu “berat untuk ditonton” dan bahwa tindakan yang diambil stafnya “salah”.

Dalam kejadian Kamis malam itu, manajer gerai Starbucks menghampiri dua pria itu dan memintanya untuk pergi setelah mereka meminta untuk menggunakan toilet tanpa melakukan belanja, kata polisi.

Kedua pria itu menolak untuk pergi dan mengatakan bahwa mereka sedang menunggu seorang teman.

Petugas polisi Philadelphia Richard Ross mengatakan bahwa petugasnya melakukan tindakan yang benar untuk melakukan penangkapan karena staf mengatakan kepada mereka bahwa dua orang itu masuk tanpa izin dan menimbulkan gangguan.

“Jika suatu perusahaan menelepon dan mengatakan bahwa ada orang yang tidak lagi diinginkan di perusahaan mereka, petugas memiliki kewajiban hukum untuk melaksanakan tugas mereka,” kata Ross.

Dalam sebuah pernyataan hari Sabtu, CEO Starbucks, Kevin Johnson menyatakan “permintaan maaf kami yang terdalam” kepada dua orang yang jadi korban insiden itu dan mengatakan Starbucks akan melakukan “apa pun yang kami lakukan untuk memperbaiki hal itu”.

“Video yang direkam oleh pelanggan sangat berat untuk ditonton dan tindakan yang ada dalam rekaman itu tidak mewakili misi dan nilai Starbucks kami,” kata Johnson.

Dia menambahkan bahwa stafnya tidak seharusnya menelepon polisi berdasarkan kejadian yang jadi penyebabnya itu.

Betapa pun, cuplikan insiden yang telah ditonton hampir sembilan juta orang sejauh ini, memicu kemarahan dan seruan boikot terhadap kedai kopi Starbucks.

Pada hari Minggu (16/4) kemarin, sejumlah orang berkumpul di luar toko itu untuk melakukan protes.

Perusahaan gerai kopi itu kini berencana untuk mengkaji ulang segalanya untuk “mencegah agar hal seperti itu tidak pernah terjadi lagi”, kata Johnson.(BBC)