Friday, 14 December 2018

Suara Merdu Sang Istri

Senin, 16 April 2018 — 6:48 WIB
ganyambung

“SUDAH saya duga, Bapak mau mencalonkan diri. Aduhai tugas Bapak sebagai bupati kan masih banyak, dan warga masih menanti kinerja Bapak. Jadi nggak usah berbelah dululah pikiran Bapak, nanti terpecah. Fokuslah pada pekerjaan. Satu dulu selesaikan. Kalau sudah oke, bolehlah menuju yang lain? Hemm, mau jadi Gubernur? Boleh juga sih!”

Suara misterius yang diterima melalui HP Bang Jalil hari ini. Seperti biasa dia acuh tak acuh. Ngapain juga, mikirin soal jadi pejabat, emang gue siapa? Wong urusan perut saja masih bikin pusing. Coba saja nih, sebentar lagi sang istri pasti nagih uang belanja. Biasa dan kebiasaan. Tapi, nggak apalah, pokoknya suara sang istri seperti simpfony ketika minta uang belanja; “ Pak, uang belanja habis!”

“ Ibu sih mau banget jadi istri pejabat. Tapi, Bapak selalu saja menolak?” kata istri Bang Jalil.

Bang Jalil tersenyum kecut. Kadang kasihan juga sama istrinya yang selalu mimpi kepingin jadi pejabat. Nggak usah lah Bu. Jadi orang biasa sajalah.

“ Ibu, apakah ibu nggak tahu, tuh banyak pejabat yang jadi penghuni sel KPK?“
Bang Jalil memberi contoh, yang sudah jadi gubernur, bupati malah pada korupsi? Terus yang gagal pada stress, karena terlilit utang?

“ Amit-maut deh!” kata sang istri,”Sudahlah,Pak. Ibu mau masak yang enak, tapi jangan lupa uang belanjanya?” ujar sang istri.

Itulah yang dimaksud kata-kata merdu sang istri. ‘Uang belanja’. Hemm, kalau jadi pebajat kan nggak ada nih yang kayak gini, semua diatur sama ‘kepala urusan rumah tangga?’

“Eh, tapi boleh dong Ibu tanya, memang kenapa Bapak keberatan jadi pejabat?”

“ Ya, karena Bapak nggak punya hoby motor gede, hoby naik kuda, hoby mancing, hoby….tralalala…! “ -massoes