Wednesday, 19 September 2018

Ketemu Keyboardis Setan Bini Menjadi Lupa Daratan

Selasa, 17 April 2018 — 7:10 WIB
keyboardis

ADA 50 partai setan, Wanggono, 37, tenang-tenang saja. Tapi ketika ada pemain keybord (keyboardis) setan, dia merasa rumahtangganya terancam. Sejak ketemu keyboardis Gatot Saptono, 40, istrinya jadi lupa daratan. Yakin istrinya sudah “dimakan” keyboardis setan tersebut, Wanggono memilih bercerai saja.

Andaikan setan punya bisnis, dari dulu dia mainnya kan dalam urusan akrobat “tong setan”. Setelah marak wisata kuliner, makhluk halus paling terkutuk itu bikin usaha “rawon setan” dan “es pocong”. Tapi belakangan, menurut kacamata Mbah Amien Rais, setelah era reformasi setan-setan pun bikin partai. Untuk bisa melihatnya, harus pakai ilmu dalam, setidaknya pakai minyak “Jayeng Katon” pemberian dewa.

Bagi Wanggono warga Prapen, Surabaya, ada 50 atau 100 partai setan, sebetulnya kagak ngaruh baginya. Sebab dia memang bukan politisi atau jenis rakyat yang suka jualan “wani pira” setiap ada Pilkada maupun Pileg. Tapi ketika ada satu saja keyboardis setan, rumahtangga dia mendadak berantakan. Istrinya kabur gara-gara digondol keyboardis setan tersebut.

Semuanya bermula dari kemiskinan yang membelit Wanggono. Berani menikahi Yunita, 31, seorang penyanyi dangdut, tapi modalnya cekak. Jadi pekerja kantor swasta yang gajinya berstandar UMP (Upah Minimum Provinsi), Wanggono tak bisa memanjakan bininya. Sedangkan Yunita sendiri masih pedangdut tingkat bawah, sehingga job-jobnya belum banyak.

Lalu Yunita pun berkenalan dengan keyboardis muda bernama Gatot Saptono, yang katanya banyak chanel, sehingga bisa menambah job-job manggung. Awal berkenalan dia sudah minta pengertian Wanggono, bila dia nanti tampak akrab dengan sang keyboardis, semata-mata untuk memperlancar job-job nyanyi.

Percaya akan loyalitas istrinya, Wanggono membiarkan saja. Dan memang betul, sejak bininya bekerjasama dengan Gatot Saptono, panggilan pentas jadi banyak. Kalender di rumahnya, sudah banyak dicoret-coret berisi catatan tanggal pentas dari berbagai tempat. Otomatis tingkat pertumbuhan rejeki untuk rumahtangganya meningkat lebih dari 7 persen.

Tapi sejak Yunita sering pentas sampai ke luar kota Surabaya, Wanggono justru jadi terlantar secara batin. Dia jarang dapat “pelayanan” dari istrinya, dengan alasan masih ngantuk. Tentu saja Wanggono menjadi sangat masgul. Bagaimana mungkin, antara pasokan benggol dan bonggol kok tidak lagi berbanding lurus?

Wanggono pernah minta agar job-job itu dikurangi. Tapi Yunita menolak dengan alasan, “Memangnya gajimu cukup untuk biaya hidup?” Dipasal seperti itu, tentu saja Wanggono tak berkutik. Dia pun mengeluh dalam batin, bini di luaran terus dangdutan, dia sendiri di rumah tambah empot-empotan.

Kecurigaan selama ini mulai menjadi kenyataan. Belakangan Yunita semakin jarang pulang, karena sibuk diajak pentas keyboardis setan ke berbagai tempat, sampai nginep di hotel berdua sekamar. Hingga di sini Wanggono jadi yakin bahwa isrtinya tak hanya goyang patah-patah di panggung, tapi juga digoyang sampai ranjangnya patah di hotel.Ya sudah…., ketimbang makan hati berkepanjanga, Wanggono segera menggugat cerai ke Pengadilan Agama Surabaya.

Kalau ada keyboardis setan, lihatnya pakai jampi-jampi apa ya? (JPNN/Gunarso TS)