Tuesday, 22 May 2018

Tukang Sepeda Ontel Ini Ingin Anak Sarjana

Selasa, 17 April 2018 — 1:40 WIB
Suparno, 63, bertahan hidup di Jakarta dengan menyewakan sepeda ontel di kawasan Kota Tua, Jakbar. (Rachmi)

Suparno, 63, bertahan hidup di Jakarta dengan menyewakan sepeda ontel di kawasan Kota Tua, Jakbar. (Rachmi)

BERCITA-cita ingin menjadi polisi untuk membasmi kejahatan, namun garis tangan menentukan lain. Suparno, 63, kini harus berjibaku dengan menyewakan sepeda ontel di kawasan wisata di Kota Tua (Kotu) Jakarta Barat.

“Nyesel juga sih. Dulu saat masih sekolah di SD, saya sering bolos. Padahal saya pengen banget mau jadi polisi,” ujar pria asal Kebumen, Jawa Tengah saat menunggu penyewa sepeda ontelnya.

Bapak enam anak ini mengaku saking sering bolos, ia ketinggalan banyak pelajaran. Di saat teman-temannya sedang menuntut ilmu di bangku sekolah, Suparno malah asyik bermain dengan teman lainnya di sawah di kampung halamannya.

Suatu ketika sang ayah memergokinya tengah bermain di sawah dan diminta supaya sekolah. Namun bukannya patuh ke orangtua, ia malah kabur dan sempat kejar-kejaran di tengah hamparan sawah.

Toh akhirnya Suparno harus puas dengan hanya lulus SD. Sedangkan teman-temannya berlanjut hingga ke jenjang SMP. Anak kedua dari tiga bersaudara ini mencoba menata hidupnya agar lebih terarah.

Di usia 15 tahun, ia merantau ke Jakarta. Dengan semangat anak muda, ia bertekad untuk menaklukan Jakarta. Hanya saja dengan pendidikan yang minim, dan tidak didukung keterampilan memadai, Suparno remaja nyaris luntang-lantung.

“Sungguh berat bagi saya yang sekolahnya cuma SD. Apalagi nggak punya keterampilan. Tapi mau pulang kampung, nggak mungkin dan pasti malu sekali,” kenangnya seraya nyengir.

Ia pun terpaksa bekerja serabutan agar tidak terlempar dari Jakarta. Prinsipnya yang penting halal agar tidak semakin membebani hidupnya.

Di sisi lain Suparno tetap bersyukur karena mendapatkan tambatan hati di perantauan. Hidupnya semakin terarah dan tak lagi membuncah. Terlebih setelah kelahiran anak pertama hingga yang ke enam.

Pengalaman pahitnya lantaran hanya mengecap pendidikan di SD, tak ingin terulang terhadap keenam anaknya. Suparno banting tulang demi menafkahi dan menyekolahkan putra-putrinya hingga jenjang pendidikan maksimal.

PELUANG USAHA

Bosan bekerja serabutan, Suparno berupaya mencari peluang yang lebih berprospek. Berawal diajak teman untuk mencari peluang usaha di Kota Tua, ia lantas tertarik mencari duit dengan menyewakan sepeda antik atau sepeda batangan. Iapun mantap, pada 2006 resmi bergabung sebagai penyewa ontel.

“Awal berusaha saya hanya punya satu sepeda batangan. Saya beli sepeda di kampung harganya sekitar Rp700.000. Uang dari hasil nabung” ujar penggemar sepak bola ini.

Setelah 12 tahun berselang, Suparno kini memiliki tiga sepeda ontel. Ia menyewakannya Rp20.000 untuk 30 menit plus gratis menggunakan topi bagi penyewa. Tersedia topi bagi pelanggan wanita dan topi cetok untuk penyewa pria.

Di Kota Tua, ada 36 penyewa sepeda ontel. Saat akhir pekan terlebih tanggal muda, Suparno bisa membawa pulang sekitar Rp100 ribu-150 ribu. Sedangkan pada Senin hingga Jumat, penyewa relatif sedikit dan Suparno menggaet sekitar Rp40an ribu.

Di Jakarta, Suparno sekeluarga menetap di kawasan Kapuk, Cengkareng dan mengontrak petakan Rp400 ribu per bulan. Ditambah listrik token dan uang kebersihan dan keamanan, ia harus merogoh kocek tambahan Rp200 ribu.

Terlepas dari itu, ia bangga dari hasil menyewakan sepeda ontel, mampu menyekolahkan beberapa anaknya ke jenjang SMA. Bahkan anak bungsunya kini mahasiswa semester 2 di salah satu PTS di Jakarta Barat. “Hidup kan tidak boleh kecil hati. Saya boleh lulusan SD tapi anak saya harus jadi sarjana,” tandasnya. (rachmi/ruh)