Thursday, 20 September 2018

Ulang Tahun Bang Jalil

Rabu, 18 April 2018 — 5:24 WIB
selamathut

BANG Jalil terharu, air matanya membasahi pipinya yang sudah mulai keriput. Sudah tua, umurnya sekarang ini kalau mau dihitung enam puluh tahun plus plus.

Kenapa dia sebigitu terharunya? O, itu anak dan cucunya datang ke rumah sambil membawa oleh-oleh.

“Bapak kan hari ini ulang tahun?” kata anak perempuannya, sambil mencium tangan dan memeluk sang ayah.

Ah dia ingat umurnya bertambah banyak, tapi soal ultah sebenarnya nggak pernah dia pikirkan. Ngapain ulang tahun segala sih? “Acara ulang tahun tuh buat cucu-cucu aja,” ujar Bang Jalil.

“ Nggak apa-apa Pak, ulang tahun itu perlu juga sebagai pengingat, biar kita sadar. Oh, iya ya sekarang umur bertambah, jadi jangan bebuat dosa. Bertobat lah!” kata sang istri sambil menyiapkan lilin di atas kue.

O, yang menarik adalah bahwa kue yang dimaksud bukan kue tar, tapi martabah telor! Itu makanan kesukaan Bang Jalil. “Udah tiup lilinnya, Pak!” kata sang istri, dan dibarengai nyanyian ulang tahun dari dua cucunya yang masih balita, dan ikut meniup lilin dengan semangat. ”Panjang umurnya, panjang umurnya…..!”

Bersyukurlah Bang Jalil, di masa tuanya, masih bisa kumpul dengan anak cucunya, walapun keadaan pas-pasan. Banyak orang, sekarang ini, yang di hari tuanya menderita. Harta banyak, tapi tak mampu mengobati duka laranya. Tengok saja tuh, mereka yang rejerat kasus, terutama korupsi?

Mereka itu kan nggak kekurangan? Ya, nggak lah. Mereka punya apa saja. Harta benda emas berlian, seabrek-abrek! Kan hasil menjarah? Korupsi apa saja yang bisa dilakukan.

“ Duit banyak tapi tinggal di kamar penjara, nggak enak ya,Pak? Ibu rela nggak punya harta. Yang penting masih bisa masak, dan punya uang belanja. Oke?” kata sang istri.

Bang Jalil, tersenyum. Masih terharu. –massoes