Wednesday, 17 October 2018

ADAB KEINDONESIAAN

Kamis, 19 April 2018 — 6:54 WIB

Oleh H. Harmoko

ADA contoh kecil yang bisa kita renungkan, terkait dengan situasi Indonesia dewasa ini: makin tergerusnya nilai-nilai tradisional oleh nilai-nilai modern. Konsekuensi zaman? Bisa jadi. Tetapi, apa karena itu lantas kita rela kehilangan jatidiri sebagai bangsa?

Begini. Suatu saat, tahun 1980-an, Prof Dr Fuad Hassan (alm) saat menjadi Mendikbud diwawancarai seorang wartawan. Saat si wartawan sedang menyorongkan alat perekam ke arah mulutnya, Pak Fuad tiba-tiba menyodorkan sebuah vulpen kepada sang wartawan. Si wartawan pun segera menerimanya, setelah memindahkan alat perekam dari tangan kanan ke tangan kirinya.

”Kenapa kamu menerima vulpen ini menggunakan tangan kanan? Bukankah tangan kananmu sedang kamu pakai untuk memegang alat perekam? Kenapa kamu tidak menerima vulpen ini menggunakan tangan kiri?” tanyanya.

Si wartawan pun _melongo._ ”Alangkah tidak efisiennya kamu, kenapa mesti memindahkan vulpen dari tangan kanan ke tangan kiri hanya untuk menerima vulpen dari saya?” kata Pak Fuad, sambil tersenyum.

“Kalau saya menerima pakai tangan kiri, tentu tidak sopan,” jawab si wartawan. Sambil tetap tersenyum, Pak Fuad pun berucap, “Bagus. Kamu benar. Kalau kamu menerima sesuatu dari orang lain menggunakan tangan kiri, artinya kamu tidak sopan.”

Lewat adegan itu, Pak Fuad Hassan ingin menyampaikan satu pemahaman tentang modernisme dan tradisionalisme dalam perilaku masyarakat kita. Menerima pemberian orang lain menggunakan tangan kanan, meski tangan kanan sedang dipakai untuk beraktivitas, ini berhubungan dengan tatanan nilai yang diajarkan oleh para orang tua kita bahwa tangan kiri adalah tangan ”kotor”, tangan ”jelek”, dan sebagainya. Artinya, itulah nilai tradisional yang diwariskan oleh para pendahulu kita.

Di sisi lain, ketika kita memasuki apa yang disebut dengan era modern, perilaku semacam itu bisa dikatakan tidak efisien. Bukankah akan lebih efisien, ketika tangan kanan sedang kita gunakan untuk melakukan sesuatu maka tangan kiri bisa kita pakai untuk menerima pemberian dari orang lain? Itulah yang disebut dengan prinsip efisiensi di era modern. Tetapi, benar kata si wartawan itu, kalau dia menggunakan tangan kiri untuk menerima pemberian dari orang lain, tentu bisa membuat tidak nyaman si pemberi.

Satu contoh kecil dan sederhana itu memberikan gambaran bahwa modernisasi sesungguhnya tidak harus meninggalkan nilai-nilai tradisi. Pak Fuad Hassan yang dikenal dengan konsep pendidikan humanioranya telah memberikan contoh kecil perilaku yang sesuai dengan adab keindonesiaan. Boleh modern, tetapi tetap menjaga adab ketimuran. Bagaimana dengan Anda? ( * )