Sunday, 18 November 2018

Desain Baru Destinasi Digital Akan Dibahas Dalam TOT

Jumat, 20 April 2018 — 19:53 WIB
Menteri Pariwisata Arief Yahya. (dok. Kemenpar)

Menteri Pariwisata Arief Yahya. (dok. Kemenpar)

JAKARTA – Desain menjadi salah satu kunci sukses Destinasi Digital. Desain ini tidak bisa sembarangan. Karena, wajib menyeimbangkan potensi alam, bujet, juga bisnis. Dan yang penting, destinasi digital dituntut eye catching plus instagramable.

Masalah desain destinasi digital dan elemen pendukungnya, akan dikupas dalam Training On Trainer (TOT). Kegiatan ini berlangsung di Semarang, Jawa Tengah, Sabtu (21/4).

Salah satu pembicara TOT adalah founder Nimara Architects, Rabani Kusuma Putra. Pembahasannya mengenai Desain Pasar Nature.

Menurut Iron, sapaan Rabani, ada banyak aspek yang harus diperhatikan dalam membangun Destinasi Digital. Sebab, muara dari semua konsep ini adalah branding. Serta, menarik pengunjung sebanyak mungkin.

“Kami akan fokus dari sisi arsiteknya. Sebab, tujuannya adalah branding. Secara umum, dasar membuat destinasi wisata atau public space ini untuk mempertahankan potensi alamnya. Tapi, punya daya tarik tersendiri,” ungkap Iron, Jumat (20/4).

Formulasi khusus pun disiapkan. Unsur keaslian berupa potensi alam pada spot-spot tersebut harus ditonjolkan. Sebab, ini akan menjadi pembeda, sekaligus landmark bagi destinasi tersebut.

Iron menambahkan, potensi dari alam tersebut dikombinasikan dengan beragam ornamen atau aksen-aksen yang khas.

“Destinasi butuh sesuatu yang otentik. Kalau itu sudah didapat, lalu dibuat sesuatu yang baru. Sesuatu yang baru dihadirkan dalam bentuk aksen-aksennya. Ini tujuannya untuk membuatnya berbeda dan semakin khas. Semua komposisi ini disusun sedemikian rupa hingga sangat instagramable,” lanjutnya.

Beberapa pasar digital zaman now besutan Generasi Pesona Indonesia (GenPI) juga sangat sukses karena mengedepankan alam. Seperti Pasar Mangrove di Batam. Mereka menyulap hutan mangrove menjadi destiasi menarik dengan penambahan beberapa ornamen arsitektur. Contoh lainnya adalah Pasar Karetan, Kendal. Destinasi ini adalah hutan karet.

Namun, dengan arsitektur unik, Pasar Karetan menjelma sebagai industri. Pasar besutan GenPI Jawa Tengah ini sukses menarik ribuan pengunjung setiap pekannya. Omset besar Rp30 Juta hingga Rp40 Juta pun selalu masuk ke rekening setiap pekannya. Sukses story juga dimiliki Pasar Pancingan di Lombok Tengah dengan landmark kolam-kolam ikan yang besar.
“Destinasi menonjolkan kekhasannya, tapi harus ada hal baru. Potensi ini lalu dikemas sedemikian rupa. Nantinya arsitektur akan masuk dalam konsep bagunan unik dan ramah lingkungan. Dengan komposisi tepat, maka akan menghadirkan sesuatu baru dan luar biasa. Semuanya harus mengakomodir semua kebutuhan lifestyle jaman sekarang,” terangnya lagi.

Iron juga mengingatkan, destinasi digital juga harus mampu menampung kebutuhan komunitas. Sebab, komunitas dengan basic massa yang besar menjadi market potensial untuk menghidupkan destinasi.

“Secara umum, aspeknya banyak. Detailnya akan disampaikan saat TOT. Nanti akan disampaikan juga terkait studi kasus. Selain otentiknya alam dan lifestyle, destinasi juga harus mengakomodir komunitas,” ujarnya.

Terkait dengan pembiayaan, Destinasi Digital juga dituntut smart memanfaatkan potensinya. Dengan bujet yang tipis sekalipun, Destinasi Digital ini bisa dibangun dengan kualitas terbaik.

Iron mengatakan, Destinasi Digital memiliki kekuatan berupa experience yang ditawarkan kepada setiap pengunjung. Konsep ini yang menjadi pembeda dengan unit bisnis lainnya.

“Harus ada elemen arsitektur yang lebih hidup. Destinasi ini menawarkan experience. Biar orang selalu ingat dan datang lagi, maka harus ada sesuatu yang atraktif. Bentuknya ada banyak menurut bujetnya. Tapi dengan modal tipis, siapapun bisa membuat destinasi yang luar biasa. Untuk itu harus beda dari destinasi lain dan menarik. Dengan modal murah masih bisa dioptimalkan,” katanya.

Desain sebuah Destinasi Digital memang menjadi elemen penting. Bukan hanya yang baru, Destinasi Digital yang sudah berjalan pun harus selalu memperbarui konsepnya.

Staff Khusus Menteri Bidang Komunikasi dan Media Kemenpar Don Kardono menjelaskan, pembaruan dibutuhkan agar pasar digital tetap eksis.

“Desain ini menjadi elemen yang vital. Sebab, desain ini menjadi representasi dari wajah destinasi secara menyeluruh. Selain yang baru, pasar-pasar yang sudah eksis juga harus memikirkan konsep baru yang ideal. Harapannya, agar jumlah pengunjung ini terus bertambah,” kata Don.

Dukungan selalu menghadirkan sesuatu yang baru dan berbeda, juga diberikan Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya.

“Desain Destinasi Digital harus tepat, terutama dalam menempatkan ornamen pendukung. Semua harus pas komposisi dan proporsinya. Pembaruan harus ada. Untuk itu, kesempatan ini harus dimanfaatkan sebaik mungkin oleh peserta TOT. Ada banyak ilmu yang bisa didapat,” tutupnya. (prihandoko)