Monday, 19 November 2018

Ini Gaya Jenita Janet Tebar ‘Virus’ Wonderful Indonesia di Nunukan

Jumat, 20 April 2018 — 21:00 WIB
Aksi panggung Jemita Janet. (dok Kemenpar)

Aksi panggung Jemita Janet. (dok Kemenpar)

NUNUKAN – Sekitar 5000 orang berkumpul di Saturiah Waterpark, Nunukan, Kalimantan Utara, Rabu (18/8) malam kemarin. Pakaiannya tidak ada yang sama. Logat bahasanya juga lain-lain. Semuanya kumpul untuk menyaksikan konser Crossborder Jenita Janet.

Menpar Arief Yahya memang tengah agresif membidik crossboder melalui sentuhan pariwisata. Nunukan, Kalimantan Utara, yang berbatasan dengan Serawak Malaysia, juga ikut dibidik. Mimpinya hanya satu. Dia ingin menaikkan status ekonomi dan sosial masyarakat perbatasan. Simpul-simpul ekonominya dibantu lewat crossborder concert seperti yang kerap heboh di Atambua, Dili, Papua, Entikong, Sanggau dan Aruk.

Tanggal 18 April 2018 pun dipilih. Kalau ditulis dengan gaya milenial, angkanya gampang diingat. Diawali 18, diakhir dengan 18 juga. 18.04.18!

Sebagian orang bilang itu angka hoki. Ada juga yang bilang itu angka istimewa. Yang jelas, saat konser di Saturiah Waterpark, Nunukan, Kalimantan Utara, ada nama beken yang naik ke atas panggung. Namanya, Jenita Janet, pedangdut yang terkenal dengan tembang Direject-nya itu.

Hasilnya? Konser di border area itu langsung heboh. Tua-muda, laki-laki, perempuan, WNI-warga Malaysia, semuanya kompak bergoyang dangdut hingga pukul 23.00 WITA. Nunukan pun langsung hidup.

Maklum, jarang sekali ada konser musik dengan bintang yang ngetop di layar kaca, yang orang-orang perbatasan (baik di Indonesia maupun di Malaysia) bisa melihatnya tampil. ”Senyum sapa penuh Wonderful Indonesia yang penuh kehangatan membuat saya ingin terus datang ke Nunukan,” tutur pedangdut Jenita Janet.

Dia pun tampil all out. Kepala Bidang Pemasaran Area III Asdep Pengembangan Pemasaran I Regional II Kemenpar Sapto Haryono dipanggil naik ke atas panggung. Janet pun langsung on menggoyang Nunukan dengan enam hits dangdut yang sudah familiar. Dari mulai Kereta Malam, Goyang Dumang, Sayang, Direject, Bang Jono hngga Jaran Goyang, semua dibabat habis.
Saat enam lagu itu muncul, batas-batas teritorial atau wilayah negara tidak lagi menjadi faktor. Indonesia-Malaysia kompak bergoyang bersama. Semua joged dengan menu hiburan yang diisi dengan artis ibu kota dalam bentuk konser live. “Nunukan memang luar biasa. Saya akan abadikan konser di Nunukan di akun resmi Instagram saya,” tutur pedangdut yang memiliki 929 ribu follower di Instagram itu.

Menpar Arief Yahya yang tengah menyiapkan paket hot deals di crossborder Batam pun langsung happy. Semangatnya makin sama dengan Presiden Jokowi yang memang sedang getol membangun daerah terluar, daerah tertinggal, dan daerah perbatasan.

“Untuk menciptakan crowd memang perlu bahasa universal. Dan musik adalah salah satu jawabannya. Bahkan saat launching event daerah yang berskala nasional, Kemenpar selalu menyisipi musik berkelas dengan home band Purwacaraka. Kekuatan musik sangat dahsyat,” tutur Arief Yahya, Menteri Pariwisata RI.

Menpar terlihat jeli melihat potensi tadi. Genre dangdut langsung jadi pilihan di menu utama. Bukan reggae. Bukan juga rock. Dia faham benar bahwa basis penggemar dangdut di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia sangat kuat dan solid. Bahkan boleh dibilang fanatik. “Menggerakkan perekonomian masyarakat di perbatasan dengan konser musik itu sangat konkret. Pengusaha lokal dari daerah akan ikut bergerak, itu akan sangat kuat multiplying effect-nya. Di Pariwisata itu setiap investasi yang ditanamkan, akan berdampak 170% buat masyarakat di sekitar itu,” kata dia.

Dampak positifnya memang mengular panjang. Nunukan jadi ngehits, ekonominya berdenyut kencang, dan masyarakat perbatasan juga makin cinta dengan NKRI. “Perbatasan tidak lagi sepi, tidak lagi dianggap sebagai daerah pinggiran. Tetapi justru menjadi wilayah terdepan di tanah air. Yang sudah sukses, harus terus dioptimalisasi agar lebih konkret menghasilkan wisman dan wisnus,” ungkap Arief Yahya. (prihandoko)