Wednesday, 26 September 2018

Ibunya Diganggu Luar Dalam Dua Remaja Langsung Beraksi

Selasa, 24 April 2018 — 7:15 WIB
gangguuuuu

BAGI Ny. Untari, 45, hidup menjanda terlalu lama bikin gatel juga rupanya. Maka ketika Arif Uyuhono, 40, tetangganya suka mengganggu “luar dalam”, justru dia sangat menikmati. Tapi anak-anaknya yang tak rela. Ipin dan Upin pun bertindak, Arif yang suka “kencingi” ibunyapun dibantai.

Hidup menjanda terlalu muda memang bisa menciptakan siksaan tersendiri. Soalnya ada dua kebutuhan yang harus dipenuhi, baik itu masalah perut maupun yang di bawah perut. Soal perut, nebeng makan di rumah famili dan tetangga masih wajar-wajar saja. Tapi yang di bawah perut? Mana mungkin ada janda terang-terangan pinjam suami tetangga, “Saya pinjam suamimu semalam saja ya.” Memangnya sepeda apa?

Ny. Untari yang tinggal di Pidada, Panjang, Bandarlampung, sungguh kesepian sejak suaminya meninggal sekitar 5 tahun lalu. Dia benar-benar merasa kehilangan pengayom kehidupannya. Secacara ekonomi atau urusan perut memang tak begitu masalah, karena ada uang pensiunan almarhum. Tapi yang di bawah perut?

Sebetulnya Untari ingin menikah lagi, tapi kedua anak lelakinya yang sudah ABG menjadi kendala. Banyak lelaki yang berminat pada janda STNK itu, tapi anak-anaknya yang tak berkenan. Banyak pula lelaki yang langsung ngibrit begitu tahu Ny. Untari sudah punya dua anak remaja. “Banyak mudarat ketimbang nikmat,” kata para lelaki itu.

Tapi ada lelaki lain bernama Arif Uyuhono yang cukup berani. Meski Ny. Untari punya “becking” dia tetap saja berhasil menyelinap di ranjang si janda. Mereka pacaran secara diam-diam. Begitu Ipin, 25, dan dan Upin, 22, terlena, Arif pun loncat hip……, dan sampailah ke ranjang nan hangat. Sepuluh menit kemudian, semuanya sudah beres dan rapi. Arif Uyuhono pulang ke rumah kos-kosannya dengan wajah ceria, maklum habis sporing balansing dan amplas platina!

Bahkan jika Untari yang ketagihan, tanpa sungkan-sungkan dia berani melakukan perselingkuhan sistem jemput bola. Artinya, janda STNK itulah yang ke rumah Arif, untuk menjemput dia punya “bola”. Dan ini yang paling sering dilakukan, karena bagi Arif Uyuhono, justru ini yang paling aman, sebab dia lebih menguasai medan.

Tapi Arif Uyuhono ini boleh dikata hanya mau “kencing enak” tapi tak mau keluar logistik. Kebanyakan yang membiayai Ny. Untari sendiri, karena memag wanita janda itu yang lebih membutuhkan. Tapi resikonya, anggaran belanja mestinya untuk keluarga di rumah, banyak yang mengalir ke Arif Uyuhono.

Anak-anak pun jadi korban. Biasanya seminggu ketemu daging, kini tidak lagi karena dikonversi jadi ikan asin demi penghematan. Ipin-Upin lalu membentuk TGPF, kenapa keuangan ibunya semaki merosot belakangan. Lama-lama biangkeroknya terungkap. Ternyata dana itu dialihkan untuk memanjakan selingkuhan ibunya.

Ipin-Upin pernah menyampaikan mosi tidak percaya pada ibu sendiri. Tapi tak digubris. Batin Ny. Untari bilang, kalian hanya memikirkan soal perut, tapi ibu kan juga butuh yang di bawah perut. Karenanya meski sudah dilarang jangan berhubungan dengan Arif Uyuhono, Untari tetap nekad.

Upin-Ipin jadi kesal, lelaki pengganggu ibunya luar dalam itu pun dicari sampai ke Panjang segala. Lho, malah ibunya ada di situ. Begitu ibunya pergi, Arif Uyuhono un dihajar, untuk memberi pelajaran. Tapi karena cara memukulnya terlalu emosi, gendakan ibunya pun tewas. Tentu saja Upin dan Ipin versi Lampung jadi urusan polisi.

Mukulnya terlalu semangat, nyawapun jadi loncat. (JPNN/Gunarso TS)