Friday, 16 November 2018

Duh, Rupiah Makin Loyo

Rabu, 25 April 2018 — 1:40 WIB
Bundles of rupiah banknotes are stacked in a money changer in Jakarta

JAKARTA – Rupiah makin loyo menghadapi dolar AS. Mata uang Negara Paman Sam ini terus merangsek hingga nilai tukar rupiah nyaris menembus level Rp14.000.

“Saya lihat di BI, dolar AS sudah di angka Rp13.990. Padahal awal bulan ini, rupiah masih bermain di kisaran Rp13.300/dolar AS,” kata Salamuddin, pengamat ekonomi politik, kepada Pos Kota, Selasa (24/4).

Ia mengaku khawatir terhadap melemahnya nilai tukar rupiah ini, karena dampaknya akan dirasakan masyarakat. Beban masyarakat pasti bertambah. Harga barang pasti naik, karena sebagian besar barang kebutuhan hidup berasal dari impor.

Bahkan tak hanya barang kebutuhan saja yang melambung. Tarif listrik dan harga BBM juga bakal naik. “Sektor energi ini paling terpukul, jika dolar AS menguat,” jelasnya. “Kalau tarif listrik dan harga BBM tidak naik, PLN dan Pertamina bisa bangkrut.”

Di sisi lain, ia melihat menguatnya dolar AS ini justru menguntungkan pemerintah. Setidaknya ada tambahan masukan buat Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Jika mendapat utang 35 miliar dolar AS sebagaimana yang ditargetkan, pemerintah mendapat tambahan penerimaan untuk APBN sebesar Rp40 triliun, dari gejolak nilai tukar ini.

TAMBAHAN PENERIMAAN

Salamuddin juga mengungkapkan, ada tambahan penerimaan dari kenaikan harga minyak mentah. Kenaikan harga minyak mentah satu dolar AS saja, akan ada tambahan penerimaan untuk APBN Rp1 triliun.

Karena itu, sambung Salamuddin, pemerintah tidak mengambil langkah-langkah untuk meredam jatuhnya rupiah. “Tenang-tenang saja, karena menguatnya nilai tukar dolar AS justru menguntungkan buat kantong pemerintah,” ucapnya. .

Melihat hal itu, ia memastikan masyarakat bakal merogoh kantong lebih dalam lagi, karena harga barang-barang naik. “Apalagi mau Ramadhan dan Lebaran, kenaikan harga bisa makin liar,” pungkasnya. (bi/st)