Monday, 24 September 2018

Menyelam di Labuan Bajo Tak Pernah Membosankan

Kamis, 26 April 2018 — 23:30 WIB
Keindahan fanorama selam di Labuan Bajo. (dok. Kemenpar)

Keindahan fanorama selam di Labuan Bajo. (dok. Kemenpar)

MANGGARAI BARAT – Bawah laut Taman Nasional Komodo, Labuan Bajo itu keren. Cool. Nggak bikin boring. Media internasional berkali-kali menyebut lokasi ini sebagai salah satu spot diving terbaik dunia. Rabu (25/4), diver profesional kembali membuktikannya.

Asal tahu saja, tahun 2016 Dive Magazine menempatkan Taman Nasional Komodo (TNK) di posisi atas lokasi terbaik untuk menyelam di dunia, bersama Raja Ampat, dan Alor. Tahun 2015, CNN Internasional juga memasukkan Labuan Bajo sebagai tempat snorkeling terbaik kedua dunia setelah Raja Ampat. Seorang penyelam profesional yang juga Travel Blogger asal Padang, Guri Ridola, ikut tergoda. Guri bahkan langsung menyelam ke beberapa spot terbaik di sana.

Hasilnya, Guri tidak menemukan kerusakan terumbu karang akibat illegal fishing sebagaimana dihembuskan media Inggris The Guardian. Dia justru dibuat terpana. Dibuat terkesima. Bawah laut Labuan Bajo justru membuatnya ingin kembali.

“Jika ada yang bertanya tentang hal yang tidak pernah membosankan dilakukan di Labuan Bajo, maka jawabannya adalah menyelam dan menikmati keindahan bawah lautnya,” ujar Guri Ridola yang ditulis dalam akun Instagram pribadinya @langkahjauh, Rabu, (25/4).

Di akun Instagram yang memiliki 15,6 ribu follower itu. Guri menceritakan pengalaman menyelamnya yang tidak bisa hanya dilakukan satu atau dua kali saja. Menurutnya, tidak ada kepuasan jika hanya sekali menyelam. Karena, di Labuan Bajo kita bisa menyaksikan hamparan coral garden, melihat manta hingga berenang bareng ikan Napoleon yang sudah dilindungi Undang Undang.

“Menyelam di Labuan Bajo tidak akan menciptakan kepuasan hanya dalam satu kali, dua kali, ataupun tiga kali saja. Dive site yang sama pun bisa melahirkan keinginan untuk menyelaminya berkali-kali. Misalnya Crystal Rock, Castle Rock, Couldron atau Short Gun, Batu Bolong, Siaba Besar, Manta Point yang merupakan dive site favorit para penyelam di Labuan Bajo,” ujarnya.

Saat dijumpai, pria asal Padang Sumatera Barat itu berbagi pengalamannya. Ia mengatakan setiap melakukan penyelaman di kawasan Taman Nasional Komodo kita akan menemukan kesan yang berbeda. “Hal itu bisa karena jenis, jumlah, dan ukuran berbeda dari setiap spesies yang ditemukan. Bisa juga karena sensasi kuatnya arus yang selalu berubah-ubah. Tak heran, hampir setiap hari selalu ada penyelam dari dalam dan luar negeri yang menyelam di sini,” ungkapnya.

Pemilik blog langkahjauh.com itu juga bercerita pengalaman diving yang baru saja dilakukannya. Guri mengaku senang bisa berenang dengan Ikan Napoleon. Menurutnya, Ikan Napoleon dengan ukuran besar ada di sisi selatan Batu Bolong. Pengalaman yang berbeda didapatnya di sisi utara Batu Bolong. Tidak hanya jenis ikan yang ditemui.

Tetapi juga tebing yang dihiasi terumbu karang warna-warni. Belum lagi ribuan ekor ikan akan mengelilingi selama penyelaman. “Inilah alasan terbesar mengapa rasa bosan tidak akan muncul pada para penyelam di Labuan Bajo. Kamu tertarik untuk menyelam di sini?” ajak Guri.

Paket Lengkap

Guri juga menambahkan, berwisata di Labuan Bajo itu memiliki paket lengkap. Jika tidak bisa diving, wisatawan bisa bermain di pantai yang airnya jernih. Seperti Pink Beach, Pulau Kanawa, Taka Makassar. Wisatawan juga bisa tracking di Pulau Padar, Gili Lawa, hingga melihat Komodo di habitatnya.

“Waktu yang tepat ke Labuan Bajo itu saat bulan April hingga November. Bulan tersebut sudah habis musim hujan,sehingga airnya jernih. Dan juga bukit-bukit di sini masih berwarna hijau,” katanya.

Pernyataan yang sama dilontarkan diver asal California, Amerika Serikat, Danny (37). Saat ditanya kondisi terumbu karang di sana, Danny tak segan untuk memuji keindahannya. “Menyenangkan bisa diving di sini. Kondisi terumbu karang sangat bagus. karena visibility 25-30 meter normal, jadi bening banget airnya. Warna karangnya juga bagus banget, pokoknya menyenangkan,” kata Danny.

Selain itu, lanjut Danny di pulau Komodo dirinya melihat berbagai jenis ikan lainnya. Mulai dari ikan badut (badut), hiu karang, penyu, hingga barakuda. Dijelaskannya, di sini arusnya cukup kuat sehingga tidak disarankan bagi penyelam pemula.

“Ini cocok sekali bagi para sport diver yang ingin merasakan arusnya deras sekali. Saat dari bawah mau naik ke atas, kita harus nunggu dulu sampai arusnya agak berhenti. Memang harus ada partnernya ketika menyelam dan melihat waktu yang baik saat menyelam,” ucapnya.

Sementara itu, Person In Charges (PIC) Pokja 10 Destinasi Prioritas Kementerian Pariwisata Labuan Bajo, Shana Fatina mengatakan, mayoritas wisatawan yang datang ke Labuan Bajo itu untuk menyelam. Walaupun merupakan wisata minat khusus. Tak disangka olahraga diving memiliki pangsa pasar khusus pula.

“Spending diver itu tinggi. Karena rata-rata tinggal cukup lama, baru tiba belum tentu langsung diving. Setelah menyelesaikan trip divingnya, sebelum pulang mereka istirahat sehari. Jadi length of stay-nya lama,” ujarnya.

Untuk diving trip, para peserta dapat memilih trip yang dilakukan selama satu hari, dua hari hingga lebih dari 7 hari dan sampai berbulan, tergantung dengan kebutuhan dan kemampuan mereka. Dan biasanya mereka Live on Board (LOB) di sini. “Untuk market Indonesia, biasanya mereka melakukan kursus di Jakarta karena ada Pulau Seribu. Tapi untuk pasar wisman, Labuan Bajo menjadi salah satu lokasi diving favorit mereka selain Bali, Lombok dan Raja Ampat,” katanya.

Shana mengungkapkan, jumlah kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara ke Labuan Bajo juga terus meningkat. Angkanya sudah pada ratusan ribu. “Tahun 2017 lalu, 120 ribu pengunjung di Taman Nasional Komodo. Turis mancanegaranya 75.650. 60 Persen pengunjung yang datang melakukan diving,” pungkas Shana. (prihandoko)