Saturday, 26 May 2018

SELAMAT JALAN MAS DJOKO

Kamis, 26 April 2018 — 5:14 WIB

JURNALIS otodidak kesohor di negara kita adalah Bapak Adam Malik, pendiri Kantor Berita Antara. Terakhir menduduki jabatan Wakil Presiden RI.

Beliau lulusan Hollandsch Inlandche School (HIS). Sederajat dengan sekolah dasar. Melanjutkan ke sekolah agama, tetapi tidak tamat. Hanya satu setengah tahun.

POS KOTA didirikan 15 April 1970 oleh sejumlah wartawan otodidak. Mochamad Djoko Yowono, kelahiran Grobokan, 1 Desember 1961, lulusan sekolah lanjutan bergabung hingga akhir hayat sebagai generasi penerus kelompok otodidak atau belajar tanpa bantuan guru.

Mas Djoko, sapaan akrabnya, berkemampuan menangkap tanda-tanda perubahan zaman. Dituangkan dalam bentuk karya jurnalitisik atau artikel bermuatan satire, sehingga enak dibaca. Mengagumkan!

Sabtu, 21 April 2018, sekira pukul 20:45 meninggal dunia di RS Islam Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Menurut keterangan dokter bahwa yang bersangkutan menderita pendarahan di otak.

Sebelum wafat, persis sepekan silam, Kamis 19 April 2018, ketika sedang rapat koordinasi tiba-tiba mengeluh lemas. Kesulitan bicara. Didampingi kolega kerjanya langsung berobat hingga dirujuk ke RS Islam.

Fenomena wartawan otodidak menarik untuk dijadikan spirit. Khususnya bagi generasi penerus penyelenggara mass media era revolusi digital.

Janganlah mudah puas diri dalam berkarya. Menjauhi sikap memborong kebenaran.

Hakekat kebenaran karya jurnalisitik jauh dari absolut. Melainkan hanya bersifat sementara. Gugur bila ada temuan kebenaran paling aktual.

Dengan demikian butuh keterbukaan wawasan. Menerima nilai-nilai perubahan guna memenuhi naluri keingin-tahuan warga masyarakat tentang suatu peristiwa yang telah, sedang dan akan terjadi.

Sajian berita mass media menarik perhatian publik bila menjelaskan suatu peristiwa secara sistematis. Mengemukakan proses sebab-akibat. Menggunakan kalimat pendek-pendek, sehingga mudah dipahami.

Dibumbui untaian kata indah bergaya santire, bisa menambah pesona. Pihak yang jadi sasaran kritik pun tidak berang.

Wartawan Indonesia sebagai agen perubahan bangsa punya komitmen menggugah warga masyarakat agar segera sadar, bangkit, dan bergerak meraih kehidupan yang lebih baik. Mengutamakan NKRI di atas kepentingan perorangan atau golongan.

Mencermati perkembangan Ilmu kewartawanan, meyakinkan kita bahwa profesi satu ini tidak ada matinya. Publik butuh berita berdasarkan fakta sebagai primadona karya jurnalisitik. Bukan berita-berita hoax atau bohong yang menyesatkan.

Akal sehat tidak keliru bila beranggapan bahwa karya jurnalisitik lulusan perguruan tinggi mestinya berkualitas memuaskan. Secara teoritis si jurnalis telah menguasai metode ilmiah tentang obeservasi.

Menggali, mengumpulkan, menganalisa antara satu fakta dengan fakta lain yang memiliki hubungan, sehingga menghasilkan tingkat akurasi tinggi. Besar manfaatnya bagi khalayak.

Badan penyelenggara mass media profesional cukup banyak. Dewan Pers hingga akhir tahun 2017 mencatat ada 1.121 perusahaan suratkabar, radio, televisi dan media online lulus verifikasi administrasi dan faktual, termasuk POS KOTA.

Rekrutmen calon wartawan barunya hanya ditujukan kepada tenaga yang masih segar lulusan sarjana strata-1. Diutamakan terampil menyampaikan pesan lisan dan atau tulisan menggunakan teknologi komputer.

Dampak kebijakan tersebut berisiko mempersempit, bahkan menyumbat peluang anak-anak muda lulusan sekolah dasar atau lanjutan menjadi jurnalis pada mass media profesional. Ini kehendak zaman. Sulit dihindari!

Wartawan otodidak Mochamad Djoko Yuwono telah tiada. Penulis patut mengapresiasi sekaligus mengucapkan selamat jalan, Mas…***