Tuesday, 17 September 2019

Festival Kampung Pecinan Solusi Pariwisata Berkelanjutan

Sabtu, 28 April 2018 — 13:41 WIB
Berbagai aksesoris khas Tiongkok dijajakan di Festival Pecinan. (cw2)

Berbagai aksesoris khas Tiongkok dijajakan di Festival Pecinan. (cw2)

JAKARTA – Ada yang berbeda di Pancoran, Glodok, Jakarta Barat. Terlihat beberapa stand diri berjejer, ada pula panggung di bagian depan dengan dekorasi serba merah. Pada panggung utama tersebut, terdapat spanduk bertuliskan Festival Kampung Pecinan.

Staff Pelayanan UPT Kota Tua ,Mohamad Ilyas S, mengatakan festival ini baru pertama kali diadakan. Acara ini merupakan pengembangan destinasi wisata berdasarkan karakteristik kawasan. Menurutnya, berdasarkan Peraturan Gubernur 36 tahun 2014, kawasan Kota Tua tidak hanya Taman Fatahillah saja, namun juga kawasan Pecinan, Pekojan dan juga Sunda Kelapa.

“Tapi selama ini orang cuma tau Kota Tua itu Taman Fatahillah, pengembangannya itu sampai sini sebenarnya. Kita bilang sih ini zona pesisir. Jadi memang berdasarkan pergub itu kawasannya nggak cuma Fatahillah saja,” terang Ilyas ketika ditemui poskotanews.com pada Sabtu (28/4/2018).

Ia menjelaskan, masalah yang dihadapi dalam pariwisata saat ini adalah pariwisata berkelanjutan, sehingga harus diperhatikan bagaimana kelanjutan dari pariwisata itu sendiri. Selain itu juga harus memperhatikan dan mengatur jumlah pengunjung yang ada.

Festival Pecinan3

Staff Pelayanan UPT Kota Tua ,Mohamad Ilyas S. (cw2)

“Untuk memecahkan itu, untuk memperkenalkan juga, makanya kita adakan acara ini,” tambahnya.

Acara ini pun berfokus dengan eksplor makanan dan kerajinan yang ada di kawasan Pecinan Glodok ini. Sehingga makanan dan pengisi acara yang tampil pun kental nuansa Tiongkok dan juga Betawi.

“Nanti ada barongsai, keroncong, ondel-ondel, dan yang lainnya juga. Rencananya tadi akan diadakan dua hari tapi kayaknya akan kita padatkan saja jadi sehari, di jadwal kita kemungkinan sampai jam 8 malam,” ujar Ilyas.

Lebih lanjut ia mengatakan, festival seperti ini rencananya akan terus diadakan setiap tahunnya. Namun, ia belum tahu akan diadakan terus di bulan April seperti sekarang atau tidak.

“Kita sih tergantung nanti gimana. Kita sih pengennya di harinya mereka. Seperti di Pekojan, kita maunya pas Maulid. Jadi ya sesuai sama momennya, jadi lebih kena ke masyarakat,” pungkasnya. (cw2/embun)