Saturday, 26 May 2018

Mana Caleg yang Lebih Baik Mantan atau Calon Koruptor

Sabtu, 28 April 2018 — 5:15 WIB
dulkarrrung

Oleh S Saiful Rahim

SAMBIL memijat-mijat dahi, seorang pelanggan masuk ke warung kopi Mas Wargo seraya mengucap assalamu alaykum dengan aksen pesisir Jawa Tengah.

“Kalo orang memijit-mijit buah, aku yakin betul dia ingin tahu persis buah itu sudah matang, sekadar baru tua, atau sudah hampir busuk. Tetapi kalo yang dipijat-pijat itu kepalanya sendiri, tidak bisa kutebak. Ilmuku belum sampai sejauh itu,” kata Dul Karung seraya bergeser memberi tempat orang itu duduk.

“Pusing kepalaku Dul. Sudah setengah lusin aku sobek bungkusan obat tolak mertua, tapi gak sembuh-sembuh juga,” jawab orang itu seraya melemparkan pantatnya ke bagian bangku yang dikosongkan si Dul.

“Ape sebab ape lantaran, tukang rebab dapat tamparan?” tanya Dul Karung dengan gaya banyolan Betawi pertengahan tahun 1950-an.

Beberapa orang yang dulu pernah mendengar gaya guyonan Dul Karung tersenyum. Tapi mereka yang lahir setelah tahun 1950-an malah kebingungan.

“Apa yang menjadi sebab Bung pusing?” tanya orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang, yang rupanya ikut mendengarkan gurauan Dul Karung.

“Paling juga obrolan orang soal Pilkada atau Pilpres,” terka seseorang yang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Betul itu, Bung! Tadi ketika saya liwat di depan warung kopi dekat halte bis Karet sana, semua pembelinya berkicau tentang calon-calon Presiden, dan caleg-caleg dari berbagai parpol,” ujar orang yang tadi masuk ke warung sambil pijat dahi.

“Oh! Memang sekarang selain warung kopi ini, ada lagi warung kopi yang lain. Warung baru ya?” tanya orang yang duduk di ujung kanan bangku panjang.

“Iya. Sebelah sana yang warungnya sumpek,” sambar Mas Wargo dengan suara bernuansa ejekan.

“Jangan kuatir, Mas. Saya akan tetap setia di warung ini,” serobot Dul Karung.

“Tentu saja. Di sana kan kau belum tentu boleh ngutang, “ sambar orang yang duduk persis di kanan Dul Karung.

“Bukan begitu! Kita yakin di sini Mas Wargo jual kopi luak. Di sana kalau pembelinya suka ngobrol soal caleg, capres, dan cawapres, pasti yang dijual kopi berita hoaks,” kata Dul Karung mengundang tawa seluruh hadirin. Tak kecuali Mas Wargo.

“Kalian tahu gak, di mana-mana kalau orang sudah bicara tentang caleg, capres, cawapres, dan ca ca lainnya akhirnya jadi silang sengketa tentang boleh atau tidaknya mantan koruptor dicalonkan,” kata orang yang duduk di depan Mas Wargo.

Lalu seperti ada sejuta tawon terbang bareng, jawaban simpang siur pun berlepasan. Yang setuju dan yang tidak setuju sama banyaknya. Dalihnya pun macam-macam.

“Kalau maling sudah tobat, atau telah menjalani hukuman, ya sudah bersih kembali dong. Kalau Tuhan saja mau mengampuni, masak kita yang manusia biasa gak mau menerima orang yang tobat,” kata sebagian dari orang yang cekcok.

“Gak bisa. Nenek moyang kita kan punya pepatah sekali lancung ke ujian, seumur hidup tak dipercaya,” kata yang sebagian.

“Menurutmu bagaimana, Dul?” tanya seseorang kepada Dul Karung yang sudah melangkah keluar.

“Yang pernah korupsi pasti akan ketagihan. Yang belum pernah pasti ingin mencicipi,” jawab Si Dul sambil buru-buru meninggalkan warung.

Orang-orang yang mendengarnya hanya bisa melongo. (Syahsr@gmail.com )