Wednesday, 17 October 2018

MENDONGKRAK MINAT BACA

Senin, 30 April 2018 — 7:06 WIB

JENDELA dunia berbentuk buku. Pembaca di berbagai belahan bumi dalam keadaan apapun tahu, bahkan merasakan dinamika jagat-raya. Kehidupan primitif berubah jadi beradab berkat ilmu pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

Setiap tanggal 23 April sejak tahun 1995, masyarakat internasional memperingati Hari Buku. Ditetapkan UNESCO – organisasi pendidikan, keilmuan dan kebudayaan PBB berdasarkan tanggal kematian Miguel de Carvantes, penulis masyhur yang berjasa menggalang minat baca.

Orang Spanyol itu meninggal dunia pada 23 April 1923. Kebetulan sama tanggal dengan kematian William Shakespeare, sastrawan legendaris bangsa Inggris, pada 23 April 1616.

Lebih jauh ke belakang, data literatur menyebutkan bahwa buku telah dikenal bangsa Mesir kuno. Ada temuan berupa gulungan kertas dibuat sekitar tahun 3500 SM. Bahan baku dari papyrus. Daun tanaman air banyak dijumpai di sekitar Sungai Nil.

Di tanah air, setiap 17 Mei sejak tahun 2001, warga masyarakat memperingati Hari Buku Nasional. Mengingatkan pada acara peresmian Perpustakaan Nasional, 17 Mei 1980. Bertujuan mendongkrak minat baca demi mencerdaskan kehidupan bangsa.

Minat baca bangsa kita sangat memprihatinkan! Berada pada urutan 60 dari 61 negara. Persis di atas Indonesia adalah Thailand, urutan 59. Posisi paling akhir, 61, diduduki bangsa Bostwana dari Afrika bagian selatan.

Mengabaikan buku, kemiskinan mustahil sukses dientaskan. Butuh kemauan kuat. UUD 1945 mengamanatkan penyelenggara negara mengambil peran terdepan mencerdaskan kehidupan bangsa.

Pemerintah punya kewenangan menghapus Pajak Penghasilan penulis, Pajak Penambahan Nilai kertas dan buku guna menurunkan harga jual. Menempuh kebijakan tersebut daya beli sekaligus minat baca diharapkan meningkat.

Tidak kenal kata terlambat untuk membagi cuma-cuma buku ilmu pengetahuan terapan. Rakyat kecil di desa-desa agar dibimbing petugas penyuluh mempraktekkan pengetahuan pertanian, peternakan, perekebunan dan sejenis yang tertuang di dalam buku. Harapan hidup adil dan sejahtera menjadi lebih nyata.

Buku telah bertransformasi ke jaringan elektronik. Diakses melalui perangkat komputer di atas meja, kompuer jinjing atau hand phone pintar.

Keterbatasan internet berikut jaringan wifi – perangkat tanpa kabel, bagian dari hambatan teknis. Padahal memudahkan warga masyarakat untuk membaca buku elektronik.

Mengurangi kendala, maka negara patut mengongkosi pemasangan dan pengoperasian wifi gratis. Utamanya pada seluruh kompleks sekolah dasar, madrasah, pesantren, sekolah lanjutan dan perguruan tinggi.

Ruang publik tempat orang berkerumun pun sesegera mungkin difasilitasi wifi tanpa bayar.

Bangsa cerdas adalah bangsa yang tangguh menundukkan tantangan zaman. Beda daripada mereka yang bodoh!

Jendela Dunia kita yakini anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa untuk mencerdaskan kehidupan umat manusia. Iqro, ayat Al-Quran pertama diturunkan. Berisi perintah berulang-ulang untuk membaca.

Keprihatinan tentang rendahnya minat, bukanlah sikap main-main. Lebih-lebih bagi orang beriman. ***