Saturday, 26 May 2018

BENCANA PENDIDIKAN

Kamis, 3 Mei 2018 — 6:39 WIB

CANDRADIMUKA mirip lembaga pendidikan modern. Merujuk pada kawah penempaan jiwa-raga generasi andalan dalam kisah pewayangan.

Karya kesusasteraan Jawa kuno tersebut menceritakan proses penggembelengan bayi Tutuka di kawah gunung berapi oleh para dewa. Kelak diharapkan tangguh menumpas persekutuan musuh tanpa tanding.

Putra Bima itu sampai dengan batas waktu sudah ditentukan, lulus sangat luar biasa memuaskan – summa cum laude. Berotot kawat. Bertulang besi. Sakti mandraguna.

Tutuka dewasa menjelma Gatotkaca. Bergelar Ksatria Pringgodani.

Lembaga pendidikan modern juga tempat penempaan calon-calon pemimpin masa depan oleh para guru-maha guru. Lulusan diharapkan sukses seperti Gatotkaca.

Mampu menumpas kemiskinan. Meningkatkan harkat – martabat umat manusia sesuai dengan amanat ilmu pengetahuan. Doktor – profesor adalah gelar paling bergengsi.

Kemarin, Rabu, 2 Mei 2018, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Mengabadikan keteladanan Ki Hadjar Dewantara, kelahiran Yogyakarta, 2 Mei 1889.
Beliau peletak dasar pendidikan berkarakter kearifan lokal. Membentuk insan cerdas. Berbudi-pekerti luhur. Berjiwa patriot.

Sekolah Taman Siswa didirikannya menyerupai Legenda Kawah Candradimuka.

Pendidikan nasional dewasa ini diguncang bencana horor. Terjadi kekacauan antara das Sein dengan das Sollen. Beda harapan daripada kenyataan.

Keagungan ajaran Ki Hadjar Dewantara tergerus prilaku transaksional. Gejalanya berawal dari peniadaan mata pelajaran budi-pekerti.

Doktrin: Tut wuri handayani, Ing madya mangun karsa, dan Ing ngarsa sung tulada, luntur.

Banyak penyelenggara pendidikan menekuk visi ke arah industri. Mencetak orang-orang pintar, tetapi minim kecerdasan.

Sifat ksatriaan di antara civitas academica tercabut. Mengkhianati amanat ilmu pengetahuan. Mengedepankan serba, “Wani piro?”

Ada juga ‘dewa-dewa’ lembaga pendidikan mirip broker. Memperdagangkan gelar bergengsi dalam bidang ilmu pengetahuan.

Ibarat kawanan harimau kelaparan. Memangsa anak- anak mereka. Memilukan. Fenomena tersebut harus segera diakhiri!

Langkah tepat adalah menjadikan Hardiknas sebagai momentum evaluasi garis-garis besar arah pendidikan.

Memantapkan kembali kurikulum berbasis doktrin Ki Hadjar Dewantara.***