Saturday, 22 September 2018

Indonesia Kok Diberi Jenazah Anak Sendiri

Sabtu, 5 Mei 2018 — 7:11 WIB
oranglibg

Oleh S. Saiful Rahim
“KALAU jempolku ada lima pasti yang satu akan kuberikan kepada Pak Idham Azis. Luar biasa beliau itu!” kata Dul Karung setelah mengucapkan assalamu alaykum dengan fasih seraya masuk ke warung kopi Mas Wargo.

“Pak Idham Azis yang kau maksud itu Kapolda Metro Jaya ya? Memang jempol beliau kenapa?” tanya orang duduk di ujung kiri bangku panjang. Satu-satunya tempat duduk untuk pelanggan warung kopi tersebut.

“Wah! Kacau nih!” kata Dul Karung lagi. “Orang linglung ikut nimbrung!” sambungnya sambil goyang- goyang kepala.

“Gini lho, Mas!” Tiba-tiba Mas Wargo yang amat jarang ikut campur obrolan para pelanggannya, kali ini ingin jadi penengah.

“Orang Betawi kalau melihat tindakan hebat dari seseorang, secara spontan suka berteriak “Wah, jempolan, Lu!” Atau “Gue kasi jempol deh Lu!”

“Nah, itu maksud luapan kagum Dul Karung terhadap aksi Pak Kapolda Metro Jaya yang akan mengusut tuntas tragedi dua orang bocah lelaki meninggal ketika ada acara bagi-bagi bahan pangan di Monas, Sabtu lalu. Begitu kan, Dul?” sambung pemilik warung kopi itu.

“Betul Mas! Tebakan Mas tentang isi hati saya itu jempolan banget deh. Kalo sekarang saya punya uang, utang saya pasti saya lunasi semua,” tanggap Dul Karung membuat sebagian pendengar tersenyum.

“Yang patut kita sayangkan mengapa pelaku acara bagi-bagi sembako di Monas itu tidak belajar pada sejarah,” kata orang yang bila dilihat penampilannya tampak amat intelek, duduk dekat pintu masuk.

“Dulu kan kita sering mendengar acara bagi-bagi zakat atau apalah namanya, yang dilakukan secara demonstratif oleh seorang hartawan di suatu daerah, menjadi malapetaka. Banyak orang luka karena terinjak-injak. Sekarang kok hal sama walaupun mungkin tidak serupa, terjadi di Ibukota. Nama yang melaksanakan acara semula terdengar indah dan hebat, ‘Forum Untukmu Indonesia’, jadi tragis. Karena yang dipersembahkan ‘untukmu Indonesia’ adalah dua putik nyawa anak Indonesia. Mahesa dan Rizki,” sambung orang yang tampak sangat intelek itu.

“Menurutmu cara sedekah atau menderma yang baik itu bagaimana, Dul?” tanya seseorang entah siapa dan duduk di sebelah mana.

“Kata Kong H. Thohir, guru ngaji yang dulu tinggal di Karet Gusuran Gang 1, dan H. Marzuki yang dulu tinggal di Karet Tengsin dekat Hotel Syahid sekarang, Nabi Muhammad Saw pernah bersabda, bersedekah itu bila tangan kanan yang memberi, tangan kiri tidak boleh tahu,” kata Dul Karung seraya meninggalkan warung dan utang. (Syahsr@gmal.com )*