Wednesday, 26 September 2018

Bandara Pohuwato Akan Memacu Pertumbuhan Pariwisata di Gorontalo

Minggu, 6 Mei 2018 — 17:25 WIB
Bandara Pohuwato (dok. Kemenpar)

Bandara Pohuwato (dok. Kemenpar)

POHUWATO – Unsur 3A yang selalu dilontarkan Menteri Pariwisata Aref Yahya yakni Akses, Amenitas dan Atraksi terus digenjot di Kabupaten Pohuwato, Provinsi Gorontalo. Itu setelah, kabupaten yang punya bentangan pantai yang indah itu akan memiliki bandara baru di daerah Desa Imbodu, Kecamatan Randangan, Pohuwato.

Bupati Pohuwato Syarif Mbuinga mengatakan, sudah dilakukan pembangunan bandara dan diprediksi akan rampung tahun 2019 atau 2020. “Jika itu rampung, maka akses akan semakin mudah, wisatawan akan semakin banyak datang ke Pohuwato dan ke Gorontalo,”kata Syarif dalam acara pembukaan Festival Pesona Pantai Pohon Cinta (FP3C) 2018 di Lapangan Pohon Cinta, Kamis, 3 Mei 2018.

Acara yang juga dihadiri oleh Gubernur Gorontalo Rusli Habibie dan Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional III Muh. Ricky Fauziyani itu digelar mulai tanggal 3 sampai dengan 6 Mei 2018. Lebih lanjut Bupati mengatakan, jika Bandara itu sudah rampung, maka dari Bandara Gorontalo hanya butuh waktu setengah jam untuk sampai ke Pohuwato. ” Bahkan juga bisa dari daerah manapun mendarat di tempat kami. Bisa dari Manado, bisa dari Makassar.Daerah kami akan hidup, masyarakat kami akan tambah sejahtera, karena kita semua sudah tahu bahwa pariwisata mensejahterakan rakyat,”kata Bupati.

Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional III Muhammad Ricky Fauziyani mengatakan bahwa akses merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam sebuah destinasi pariwisata. Namun, bukan hanya Akses, Atraksi dan Amenitas juga harus dibangun secara pararel untuk pariwisata di Gorontalo.

“Khusus atraksinya, ke depan bukan hanya memikirkan Cultural Value, namun juga harus memikirkan Commercial Value. Karena jika sudah komersil, maka akan ada uang masuk dari wisatawan untuk masyarakat, atraksinya bisa terus dikunjungi wisatawan mancanegara maupun wisatawan nusantara,”kata Ricky saat ditemui wartawan di Gorontalo.

Sekadar informasi, pembangunan bandar udara tersebut bisa memperpendek rentan kendali masyarakat. Karena jarak tempuhnya melalui darat bisa menghabiskan tiga hingga empat jam jika menuju Bandara Udara Djalaludin Gorontalo. Selain itu dengan adanya bandara udara ini dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya di wilayah barat. Selain itu, Pemprov Gorontalo juga telah mempersiapkan Dermaga Pelabuhan Anggrek, menjadi pusat konektivitas pusat bongkar muat barang, terutama untuk penambahan panjang dermaga yang saat ini baru 300 meter menjadi 500 meter.

Hal ini dimaksud agar bisa lebih menarik dan membarikan jaminan kepada investor untuk berivestasi di Gorontalo, karena untuk sarana perhubungan baik laut maupun udara semuanya sudah maksimal.

Gubernur Gorontalo Rusli Habibie juga menambahkan, selain wisata alam bawah laut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pohuwato, juga mengembangkan obyek wisata Pulau Lahe, Kecamatan Marisa untuk menarik wisatawan.

Kata Gubernur selain memiliki pantai pasir putih, Pulau Lahe juga menyimpan berbagai keindahan bawah laut. “Pulau Lahe juga memiliki keindahan bawah laut dan titik-titik penyelaman dan juga snorkeling bagi wisatawan,” jelasnya.

Dia mengungkapkan bahwa pulau yang hanya berjarak tiga kilometer dari pusat kota tersebut juga membuka peluang bagi investor yang ingin mengembangkannya. “Dengan menggunakan perahu nelayan setempat maupun speed boat, kita dapat tiba di Pulau Lahe hanya dalam waktu 15-20 menit saja,” katanya.

Untuk fasilitas bagi wisatawan, pemerintah bersama industri akan membangun sejumlah penginapan dan juga ruang publik bagi masyarakat. Sementara itu, Bupati Pohuwato Syarif Mbuinga mengatakan bahwa di pulau tersebut telah ditenggelamkan mobil dan juga motor yang dijadikan sebagai rumah ikan untuk taman bawah laut.

“Rumah ikan ini akan menjadi lokasi penyelaman yang unik dan beragam ikan akan tinggal disitu,” ungkap dia.

Ia menambahkan bahwa Pulau Lahe merupakan salah satu destinasi wisata unggulan yang ada di Kabupaten Pohuwato.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengaku bangga dan salut bagi para pimpinan daerah yang sangat fokus mengangkat Pariwisata di daerah. Pria asli Banyuwangi ini biasa menyebut para Gubernur maupun Bupati sebagai CEO yang memiliki komitmen bagi pariwisata Indonesia. Menurutnya, Peran CEO atau Gubernur, Bupati, Walikota, itu menentukan 50% kesuksesan daerah dalam membangun sektor pariwisata.

“Di awali dengan komitmen orang nomor satu di daerah itu, maka semua program dengan mudah akan berjalan. Begitu pun sebaliknya. Karena tugas pemimpin itu menentukan arah dan mengalokasikan sumberdaya,”ujar Menpar Arief.

Keseriusan CEO akan terlihat dari bagaimana Pemda memprioritaskan sumber daya dan anggaran mereka di pariwisata. Contoh mudahnya adalah mengenai besaran anggaran untuk pariwisata, dan apakah pemilihan Kepala Dinas Pariwisata-nya sudah yang terbaik.

“Kalau mau berterus-terang, saya hanya akan bantu provinsi, kabupaten atau kota yang Gubernur atau bupati dan walikota yang benar-benar committed dan konsisten membangun pariwisata,” kata Menpar Arief Yahya. (prihandoko)