Thursday, 18 October 2018

Bini Bergaya Sosialita Suami yang Menderita

Minggu, 6 Mei 2018 — 7:55 WIB
sosialita

SEBAGAI sopir angkutan kota, Salamun, 40, sungguh menderita. Bukan karena setoran naik, tapi pusing melihat gaya istrinya, Tina, 35. Sejak sering kumpul teman-teman SMA, dia jadi bergaya sosialita, senang shoping dan makan di restoran. Tak mampu membiayai gaya hidup Tina, Salamun memilih berpisah saja.

Seorang istri yang baik mesti memahami kondisi suami. Dia konglomerat atau wong mlarat? Jika sang suami punya penghasilan besar, bolehlah tampil hedonis seperti kaum sosialita. Tapi jika suami bergaji kecil, ya harus mengikuti gaya hidup sederhana, jangan neko-neko. Kasihan suami, bisa ngos-ngosan mengimbangi gaya hidup istri.

Ny. Tina yang tinggal di Karangpilang Surabaya ini agaknya tak mau tahu dengan kondisi suami. Meski bapaknya anak-anak hanya jadi sopir angkutan kota, dipaksa mengimbangi gaya hidup dirinya, yang selalu tampil hedonis, sok kaya bak kaum sosialita. Maka kondisi tubuh Salamun yang selama ini tinggi kurus, gara-gara ditekan istrinya selalu, kini jadi makin kurus macam cagak telepon.

Awalnya Tina merupakan sosok istri yang sederhana, sangat memahami profesi suami yang hanya sopir. Makan sehari-hari apa adanya, nasi putih yang berlaukkan kerupuk atau ikan teri. Sayur mayurnya juga hanya seputar sawi, atau seperti lagu Bandar Jakarta karya Maladi. “Awan lembayung….sore kangkung!”

Perubahan sikap Tina terjadi semenjak ikut reuni teman-teman di SMA. Dia jadi suka ngelayap sampai malam, karena diajak makan-makan di restoran. Karena malu hanya modal cangkem doang, sekali-kali Tina yang kebagian nraktir teman-teman. Padahal sekali jadi “cukong” nilainya bisa sampai Rp 1 juta, karena menunya kadang lobster seperti anggota DPRD DKI.

Bukan itu saja. Jika diajak ke pertokoan besar atau departemen store, malu Tina hanya jadi penonton. Musti ikut-ikutan beli tas atau sepatu, padahal harganya juga juta-jutaan. Gila nggak, hanya bini sopir kok Tina bermimpi punya tas Hermes. Mbok suami sampai kena herpes, tak mungkinlah bisa memenuhi keinginan istrinya. Padahal jika dinasihati, Tina malah memojokkan suami, “Makanya jangan jadi sopir Wonokromo-Bungurasih, tapi Jakarta – London, gitu,” kata istrinya.

Untuk mengimbangi gaya hidup istri, ingin rasanya Salamun beternak kalajengking yang bisanya seliter laku Rp 145 miliar. Sayang, ucapan Presiden Jokowi ini hanya guyonan belaka, bukan serius dan tak perlu diikuti. Jadi harus bagaimana untuk mengimbangi tuntutan dan gaya hidup istrinya itu?

Tina ini memang cantik. Meski sudah 12 tahun jadi istri sopir, tetap saja cantik. Tapi gara-gara pengaruh teman, kini hobinya ke salon melulu, agar kecantikannya tersebut tetap terpelihara. Lagi-lagi asal dinasihati, Tina malah mengeluarkan kata-kata menyakitkan. “Tahu nggak Mas, aku dulu sebetulnya nggak mau sama kamu. Tapi karena kata bapak sampeyan itu santun dan seiman, saya dipaksa mau jadi istrimu.”

Coba, itu kan sama saja memperbesar kemaluan eh rasa malu Salamun. Tapi demi cintanya pada istri, Salamun memaksakan diri pinjam sana pinjam sini. Itu pun tak nguber. Paling gila, karena teman-teman banyak tinggal di real estate, Tina minta pula Salamun beli rumah DP nol rupiah di Bunga Citra Lestari. “Itu nama artis bukan perumahan, goblok!” kata Salamun kesal.

Gara-gara diperas istri, Salamun kini sering dilanda stress. Jika terus-terusan begini, alamat tak bisa menyaksikan Indonesia bubar tahun 2030 seperti kata Prabowo. Mumpung belum terlambat, Salamun harus berpikir realistis. Ibarat kanker, Tina memang harus diamputasi agar tubuh kembali sehat, rosa-rosa macam Mbah Marijan. Maka dengan semangat #2019 ganti istri, Salamun membawa persoalan ini ke Pengadilan Agama Surabaya.

Setelah bercerai, segera nyablon kaos ya. (JPNN/Gunarso TS)