Thursday, 18 October 2018

Apakah Kecanduan Seks Adalah Mitos?

Senin, 7 Mei 2018 — 0:25 WIB
seks

INGGRIS– Ada berbagai hal yang membuat manusia kecanduan, seperti nikotin, alkohol, dan narkotika. Namun, apakah seks juga membuat manusia kecanduan?

Saat ini, kecanduan seks tidak termasuk diagnosa klinis. Artinya, kami tidak punya data resmi berapa orang yang mencari pertolongan untuk menangani ketergantungan seks melalui badan kesehatan resmi.

Sebuah laman di Inggris yang menawarkan bantuan bagi orang-orang yang berjuang mengatasi kecanduan seks atau pornografi membuat survei terhadap 21.000 orang pengunjung situs tersebut sejak 2013.

Dari 21.000 pengunjung, sebanyak 91% merupakan pria dan hanya 10% di antara mereka yang mencari pertolongan ke dokter.

Kecanduan seks semula hendak dimasukkan dalam Panduan Diagnosa dan Statistik Gangguan Jiwa (DSM) edisi 2013—yang banyak digunakan di Inggris dan Amerika Serikat—namun ditolak karena kekurangan bukti.

Bagaimanapun, ‘perilaku seksual kompulsif’ kini tengah diajukan untuk masuk ke dalam panduan Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) yang dibuat Organisasi Kesehatan Dunia.

Judi tadinya masuk kategori perilaku kompulsif, namun diberikan status diagnosa formal sebagai kecanduan pada 2013 setelah bukti-bukti baru bermunculan.

Para ahli terapi meyakini kecanduan seks dapat menempuh jejak yang sama.

Sebuah kajian yang dirilis pada 2014, menunjukkan aktivitas otak para “pecandu seks” yang sedang menonton film porno sama dengan aktivitas otak para pecandu narkoba ketika diperlihatkan jenis narkoba yang mereka pilih.

Saat itu, Dr Valerie Voon dari Universitas Cambridge selaku ketua tim peneliti, mengatakan kepada BBC: “Ini merupakan kajian pertama yang meninjau orang-orang yang mengidap gangguan tersebut dan mencermati aktivitas otak mereka. Tapi saya pikir kami belum cukup paham saat ini untuk mengatakan dengan jelas bahwa itu adalah kecanduan.”

Keyakinan Anda bahwa seseorang bisa kecanduan seks amat tergantung dari apa yang Anda pikir bisa membuat kecanduan—dan tidak ada definisi resmi yang benar-benar diterima.

Jika hal tersebut murni membuat seseorang menjadi ketergantungan fisik—sehingga menjauh dari hal tersebut bisa menyebabkan cedera fisik—maka seks “tidak bisa menjadi ketergantungan”, menurut Dr Frederick Toates selaku profesor emeritus di Open University.

Meski demikian, dia meyakini definisi yang lebih luas soal ketergantungan akan lebih berguna.
‘Mencari kepuasan’

Dr Toates mengatakan ada dua elemen penting yang menandai kecanduan, yakni pencarian kepuasan dan adanya konflik seputar perilaku pencarian tersebut.

Pencarian kepuasan, menurut banyak pakar, membedakan kecanduan dengan perilaku obsesif kompulsif—meskipun ada kemiripan.

Pengidap kecanduan akan mencari kepuasan jangka pendek, meskipun ada dampak negatifnya dalam jangka panjang.

Kebalikan dengan kecanduan, pengidap gangguan obsesif kompulsif terlibat dalam perilaku yang tidak menghasilkan kepuasan, kata Dr Toates.

Akan tetapi semua manusia mencari kenikmatan dan kepuasan. Lalu apa yang membedakan perilaku mencari kepuasan biasa dengan kecanduan?

Ahli psikologi Dr Harriet Garrod menilai sebuah perilaku tergolong kecanduan ketika mencapai taraf intensitas yang menyebabkan dampak negatif terhadap individu dan mereka yang berada di sekitarnya.

Kecanduan makanan dan judi telah masuk golongan perilaku yang bisa didiagnosa sebagai gangguan, sedangkan kecanduan seks belum masuk golongan tersebut karena telah berada dalam kesadaran publik lebih lama, ujarnya.

Artinya, perlu banyak orang yang mencari pertolongan medis sehingga menyediakan lebih banyak bukti untuk mendukung bahwa perilaku mereka adalah kecanduan, kata Dr Garrod.
Dr Abigael San, seorang ahli psikologi klinis yang meyakini perilaku seksual bisa menjadi candu. Namun, bagi orang yang merasa kehilangan kendali, seks sebenarnya adalah lapisan kedua dari masalah sebenarnya, entah itu depresi, kecemasan, atau trauma. Dengan demikian, orang tersebut menggunakan seks sebagai alat untuk meredam masalah sebenarnya.

“Kegiatan dan substansi berbeda mengaktifkan jalur kepuasan dalam cara berbeda, namun kegiatan itu masih mengaktifkan jalur kepuasan,” ujarnya.

“Tiada alasan untuk meyakini seks tidak bekerja seperti itu, hanya saja kami belum punya cukup bukti,” tambahnya.

Namun, dia tidak yakin bahwa dengan mencap kecanduan seks akan membantu orang, khususnya mereka yang menggunakan seks untuk meredam masalah lain. Cap ‘kecanduan seks’ justru akan menciptakan diagnosa berlebihan.
Kecanduan seks adalah mitos?

Tidak semua orang sepakat bahwa kecanduan seks adalah kondisi yang nyata dialami manusia.

David Ley, seorang terapis seks yang menulis buku berjudul The Myth of Sex Addiction, mengatakan rangkaian perilaku yang secara umum diberi label kecanduan seks faktanya adalah gejala-gejala gangguan kecemasan yang belum ditangani dan bukti penanganannya kurang banyak.

“Menyamakan hubungan seks atau masturbasi dengan alkohol dan narkoba adalah omong kosong. Orang yang kecanduan alkohol bisa meninggal jika dosisnya dikurangi,” ujarnya.

Dia menambahkan, “konsep kecanduan seks didasarkan pada nilai-nilai moral mengenai seks yang sehat. Anda adalah pecandu seks jika Anda berhubungan seks lebih sering atau jenis hubungan seks yang berbeda. Jika itu terjadi ahli terapi akan mendiagnosa Anda.”

Dalam makalah riset mengenai pengajuan perilaku seks kompulsif untuk panduan Klasifikasi Penyakit Internasional (ICD) , sekelompok peneliti, termasuk Dr Voon, ingin menghindari jebakan ini.

Mereka mengatakan bahwa diagnosa sebaiknya tidak didasari pada “stres psikologis yang berkaitan dengan penilaian moral atau ketidaksetujuan terkait dorongan seksual” dan tidak dipakai “untuk menjelaskan tingginya taraf minat dan perilaku seksual”.

Bagi para peneliti, dan individu lainnya yang kondisinya ingin diakui secara formal, mendapat label klinis adalah untuk memastikan orang yang mengalami gangguan bisa menerima pertolongan—terlepas dari apakah perilaku kecanduan adalah masalah utama atau sekadar gejala dari masalah lain yang lebih dalam. (BBC)