Thursday, 16 August 2018

KOMITMEN INDONESIA

Senin, 7 Mei 2018 — 6:17 WIB

WARGA masyarakat internasional banyak tercengang. Bagai pelancong menyaksikan matahari beredar malam di Negara Norwegia dekat kutub utara.

Ini kejadiannya bukan faktor alamiah, tetapi luar biasa mempesona. Berlangsung di semenanjung Korea.

Kim Jong-un, pria berusia 35 tahun, Pemimpin Negara Republik Demokratik Rakyat Korea atau Korea Utara (Korut), nekat berjalan kaki ke negara musuh bebuyutan, Korea Selatan (Korsel). Bermaksud menemui Presiden Moon Jae-in.

Disambut upacara kenegaraan. Kim bersama Moon sepakat mengubah genjatan senjata menjadi perdamaian permanen. Tujuan keduanya agar sesama bangsa serumpun kompak meraih kesejahteraan sosial. *
Donald Trump, Presiden AS, pernah meledek Kim karena berkeras mengembangkan persenjataan nuklir. Menjulukinya, Si Anak Muda Mau Coba-coba.

Di depan Sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Presiden berusia 72 tahun ini, berang. Mengultimatum segera menghacurkan Korut karena membangkang.

Kim membalas. Dari Korut melancarkan pesan provokatif. Menuding Trump, Si Manula Gila! Ancaman penghancuran dianggap hanya gongongan ajing belaka.

Klaim Kim membuat senjata nuklir antar-benua bukan untuk menghancurkan dunia. Hanya melayangkan senjata kematian massal ke Korsel dan AS bila keadaan negaranya bahaya.

Dalam tempo relatif singkat, ketegangan berubah drastis. Hari-hari belakangan justru masyarakat internasional menunggu langkah Kim menemui ajakan damai Trump. Jika terwujud, peristiwanya bukan fatamorgana, tetapi fakta luar biasa! *
Kita merasa lega. Sebagai warga masyarakat internasional cinta damai, Indonesia tidak boleh berpangku tangan.

Wajib mengambil peran penting agar kemauan baik kedua pihak terlaksana.

Pemerintah sudah menyampaikan pesan kepada dunia. Siap memfasilitasi pertemuan Kim – Trump. Walau belum dapat respons, layak terus pro-aktif.

Membuktikan komitmen kepada dunia bahwa Indonesia ada, bukan hanya untuk bangsa Indonesia melainkan juga untuk kebaikan bangsa-bangsa yang hidup di muka bumi.
*
Besar manfaat bagi kepentingan di dalam negeri. Utamanya mengingatkan, mendidik, mengokohkan sekaligus meyakinkan anak-anak muda kader bangsa bahwa pilihan hidup damai sudah final.

Kita menyikapi perbedaan sebagai anugerah Tuhan YME. Segala bentuk kepentingan menjurus konflik harus segera dicari titik temu dalam keheningan – damai.

Musyawarah demi mencapai mufakat adalah garis tegas falsafah bangsa. Fundamen demokrasi kita lentur. Jauh dari kekerasan. Jangankan menyerang, gontok-gontokanpun dilarang.

Kehendak mulia ini belakangan diabaikan. Sejumlah pihak mengagung-agungkan demokrasi beraroma liberal.

Dampaknya, berbagai aktivitas terperangkap liberalisasi. Meraih legalitas menempuh teknik perlombaan suara terbanyak.

Menyulut gejolak sosial. Publik keracunan intrik.

Ketegangan mencuat hampir tiada henti. Mulai dari tingkat lingkungan RT-RW hingga panggung politik nasional kemrungsung. Seperti air mendidih.

Persoalan beda aspirasi tertera pada kaos oblong saja, heboh. Pro-kontra menajam. Tidak produktif. Meletihkan!
*
Pengalaman getir masa lalu, pelajaran berharga. Perang Bubat, Paregrek, merebut serta mempertahankan kemerdekaan dan perang lain menelan banyak korban jiwa-raga umat manusia.

Atas dasar itu, membangun kekuatan TNI juga bukan untuk menyerang bangsa lain. Tugas utamanya, melindungi dan mempertahankan kedaulatan negara.Turut aktif menjaga perdamaian dunia. *

Menyikapi tanda-tanda zaman di semenanjung Korea dan di dalam negeri, butuh tindakan yang tidak biasa-biasa saja. Telat, bisa kehilangan momentum luar biasa.***