Thursday, 24 May 2018

Fauzi Baadila Sempat Ragu Main di 212 The Power of Love

Rabu, 9 Mei 2018 — 10:36 WIB
Fauzi Baadila dalam adegan di film '212 : The Power of Love'. (ist)

Fauzi Baadila dalam adegan di film '212 : The Power of Love'. (ist)

JAKARTA – Aktor Fauzi Baadila yang berperan sebagai Rahmat di film 212  The Power of Love, mengaku sempat ragu saat ditawari oleh Oki Silvana Dewi dan Jastis  Arimba (sutradara).

“Terus terang waktu itu gue bimbang. Gua yakin nantinya pasti banyak pro-kontra, gue nggak mau buat kesalahan juga. Ternyata mas Jastis bilang ada beberapa ulama yang memberi restu, dari situ gue baru ngerasa aman dan yakin,” ungkap Fauzi Baadila saat keterangan pers di premiere film tersebut di Epicentrum, Selasa (8/5/2018).

Keraguannya ini karena saat mau mulai suting masih banyak kekurangan, baik dari biaya produksi maupun honor untuk pemain.

“Begitu mau mulai suting, banyak kekurangan, termasuk biaya produksi dan honor. Bahkan sutingnya sempat berhenti. Tapi gue ngga mau mundur. Semangat cinta persatuan, cinta agama, bela agama, mungkin itu yang bikin gue dan teman-teman pemain dan kru tetap bertahan,” bebernya.

(Baca: Film 212 The Power of Love Diluncurkan, Prabowo : Islam Agama yang Damai)

 

Film yang diproduseeri oleh Oki Silvana Dewi ini , selain dibintangi eh Fauzi Baadilla juga menghadirkan aktor Humaidi Abas, Meyda Sefira, Irfan Hakim, Dimas Seto, Arie Untung, Tommy Kurniawan,

Cholidil Assadil Alam, Ustaz Erick Yusuf, dll.

Film ini sendiri  bercerita tentang seorang wartawan muda yang bertugas di Jakarta bernama Rahmat.

Suatu ketika dia terpaksa pulang kampung. Di sana dia selalu berselisih paham dengan sang ayah tentang aksi yang akan dilakukan oleh umat Islam.

Rahmat awalnya kurang setuju dengan rencana aksi 212. Sebaliknya sang ayah sangat mendukung dan bertekad ikut dalam aksi. Rahmat pun terpaksa ikut berangkat karena ayahnya yang sudah sakit-sakitan dan memaksa ingin terjun langsung dalam aksi.  Ayah Rahmat ini adalah seorang pemuka agama di kampung halaman.

Semula Rahmat menganggap aksi yang dipicu oleh pidato Ahok di Kepulauan Seribu hanyalah kendaraan yang ditunggangi misi politik dan kepentingan golongan tertentu. Namun sang ayah menganggap perbuatan Ahok adalah murni penghinaan agama Islam.

Melihat semangat ayahnya dan tekad jutaan orang yang terjun dalam aksi, Rahmat seperti mendapat hidayah lalu ikut menyuarakan bela Islam.

Saat aksi itulah Rahmat menyadari kekeliruannya dalam bersikap selama ini. Akhirnya dia pun mampu memperlihatkan rasa cinta pada agama sekaligus cinta pada ayahnya serta makin menebalnya rasa keimanan dan ketaqwaannya.(ali/tri)