Wednesday, 17 October 2018

Film 212 The Power of Love Diluncurkan, Prabowo : Islam Agama yang Damai

Rabu, 9 Mei 2018 — 9:59 WIB
Ketum Gerindra Prabowo Subianto nobar Film 212 The Power of Love .

Ketum Gerindra Prabowo Subianto nobar Film 212 The Power of Love .

JAKARTA – Film bergenre drama religi berjudul 212 The Power of Love mulai diputar hari ini, Rabu (9/5) di bioskop tanah air.
Sebelumnya, semalam di Epicentrum Kuningan dilakukan nobar khusus yang dihadiri oleh Ketum Gerindra Prabowo Subianto dan Fadli Zon.

Dari kalangan artis, , selain para pemain 212 The Power of Love, artis lain yang ikut nonton adalah Syahrini.

Menurut Prabowo, film tersebut menggambarkan bahwa Islam adalah agama yang damai, penuh cinta, dan anti kekerasan.

“Filmnya sangat luar biasa. Islam itu damai, Islam itu indah, penuh cinta, tidak bener bahwa Islam identik dengan radikalisme,” ungkapnya.

Film ini mengambil latar belakang peristiwa akbar dan fenomenal 212 dalam rangka Bela Islam, berkumpulnya alim ulama dan jutaan umat muslim di Jakarta terkait kasus penghinaan ayat Al-Maidah atau penistaan agama oleh Ahok.

Oleh Oki Setiana Dewi yang kemudian bertindak sebagai produser, peristiwa tersebut dinilai  sangat menarik untuk didokumentasikan dalam bentuk film komersil.

Menurutnya, tidak mudah menjadikan peristiwa 212 ke dalam bentuk film layar lebar.

“Terutama kendalanya pada biaya. Hampir ngga ada sponsor, karena mereka anggap ini film politik, padahal ngga, ini film drama. Bahkan suting sempat tertunda. Memang tentang menyangkut agama, tapi ceritanya hanya pertentangan antara ayah dan anak yang kemudian diselesaikan dengan penuh cinta di sela-sela peristiwa 212 itu,” urai Oki yang bertindak sebagai Eksekutif Produser 212 The Power of Love dari rumah produksi Warna Pictures.

“Film ini telah mengeluarkan pengorbanan yang cukup berat, kami sesama kru saling patungan.” ujarnya.

Cara penjualan tiket film 212 The Power of Love juga agak berbeda, yaitu sudah dijual duluan sepekan sebelum diputar di bioskop. Hal tersebut dilakukan untuk memancing sejauhmana perhatian masyarakat akan film yang digarap sutradara Jastis Arimba itu.

“Ternyata Alhamdulillah, banyak sekali perhatian, khususnya dari komunitas-komunitas muslim, sampai mereka mau mendeklarasikan diri mendukung dan menyukseskan film ini. Mungkin mereka merasa telah menjadi bagian tak terpisahkan dari peristiwa 212,” lanjutnya.

Oki kembali menegaskan, 212 The Power of Love bukan film politik. “Ini hanyalah konflik antara ayah dan anak. Justru faktor cinta menjadi tema besarnya. Tak hanya umat muslim, film ini saya pikir layak ditonton oleh segala kalangan,” ungkap Oki lagi.

Menurutnya, film ini untuk memperlihatkan Islam adalah agama yang santun, penuh kasih sayang, solusi dari sebuah permasalahan. Maksudnya, nilai Islam itu kan universal, sehingga bisa ditonton oleh (pemeluk) berbagai agama..

“Pesan utamanya adalah tentang cinta, keimanan dan ketaqwaan. Bagaimana seharusnya sikap seorang muslim dan perjuangan umat Islam dalam membela agama,” tuturnya.(Ali/tri)