Thursday, 27 June 2019

Kemenangan Oposisi Malaysia Apakah Berimbas ke Indonesia?

Jumat, 11 Mei 2018 — 8:55 WIB
Kemenangan Oposisi Malaysia

MAHATHIR Mohammad memang luar biasa. Meski usia sudah 92 tahun, masih perkasa sehingga berhasil tumbangkan PM Nadjib Razak. Kemenangan Mahatir disambut gembira kalangan oposisi Indonesia. Mereka yakin bahwa nasib Jokowi seperti Najib Razak pula; dikalahkan oposisi. Tapi ingat, politik itu bukan hitung-hitungan ilmu pasti.

PM Mahathir menjabat sejak 16 Juli 1981 hingga 31 Oktober 2003. Di bawah kepemimpinannya Malaysia mengalami modernisasi yang pesat dan menikmati kemakmuran di segala lapisan masyarakat. Setelah meninggalkan dunia politik Mahathir memilih buka toko kue di Langkawi.

Tapi sepeninggal Mahathir, PM-PM Malaysia berikutnya tak mampu memenuhi harapan rakyat. Bahkan dalam pemerintahan PM Nadjib Razak, rakyat makin kecewa karena terjadi skandal suap. Maka meski di Malaysia tak ada pemeo “penak jamanku ta?”, rakyat ingin Mahathir Mohammad kembali berkuasa.

Sudah 15 tahun absen dari gelanggang politik, tentunya sudah kehilangan pengikut. Usia yang semakin menua juga menjadi kendala. Tapi Mahathir memang masih rosa-rosa macam Mbah Marijan dari Indonesia. Diusung partai oposisi Pakatan Harapan (PH) dalam Pemilu Rabu lalu Mahathir menang. Dia memperoleh 113 kursi sementara Najib Razak hanya 79 kursi.

Kemenangan Mahathir disambut kaum oposisi di Indonesia. Para elit politik Gerindra, PKS dan PAN seperti Fery Yuliantono, Fahri Hamzah, Fadli Zon; semuanya optimis bahwa nasib Jokowi di Pilpres 2019 juga seperti Nadjib Razak PM Malaysia. Maksudnya, Jokowi yang berdasarkan survei masih paling unggul, pada akhirnya nanti bakal ditumbangkan oposisi pula. Dengan kata lain, Prabowo yang gantian jadi presiden.

Tapi politik itu hitung-hitungannya bukanlah seperti ilmu pasti. Dalam ilmu pasti 5 X 5 memang 25. Tapi dalam politik, belum tentu. Bisa saja 5 X 5 malah ketemu hanya 20, karena yang 5 lagi dikantongi oleh kaum politisi itu sendiri. Politik itu tak bisa zaklek, penuh kompromi dan mencla-mencle itu sudah biasa.

Maka tunggu saja 17 April 2019 mendatang. Jokowi yang bertahan, atau Prabowo yang menggantikan. Jika ternyata Jokowi yang terpilih kembali, berarti kaos bertagar # 2019 ganti presiden yang untung tukang sablon belaka. – gunarso ts