Saturday, 26 May 2018

Tragedi Rutan Brimob

Jumat, 11 Mei 2018 — 8:38 WIB

KERUSUHAN yang melibatkan 156 narapidana terorisme di Rutan Brimob, Kelapa Dua, Depok, menjadi catatan kelam bagi pemerintah Indonesia. Lima anggota Densus 88 gugur dan empat orang luka parah. Semua mengutuk peristiwa ini.

Drama penyanderaan ini menjadi konsumsi internasional. Karena di negara manapun, terorisme termasuk penjara tempat mereka menjalani hukuman, selalu menjadi sorotan. Tragedi di Rutan Brimob, adalah yang terburuk sepanjang peristiwa pemberontakan maupun pembakaran Lapas yang pernah terjadi di beberapa daerah di Indonesia.

Dunia sepakat, bahwa terorisme adalah musuh bersama. Dunia sepakat bahwa terorisme harus ditumpas sampai ke akar-akarnya. Hanya saja, sampai kini akar persoalan sesungguhnya yang menjadi pemicu meledaknya kerusuhan dan perlawanan tahanan teroris di Rutan Brimob, masih simpang siur.

Polri melalui Kadiv Humas Irjen Setyo Wasisto menyatakan, kerusuhan dipicu masalah sepele. Soal makanan kiriman keluarga yang tidak sampai ke tangan napi. Apakah hanya masalah sekecil ini membuat napi menjadi beringas? Ataukah kekejian ini akumulasi kekecewaan napi terhadap aparat, atau kondisi over load Rutan Brimob yang idealnya hanya bisa menampung 64 orang, semua masih teka-teki.

Informasi lainnya, pihak ISIS disebut-sebut mengklaim berada di balik insiden ini. Bila klaim ini terbukti benar, sangat mengerikan. Karena penjara yang semestinya tempat membina napi, justru malah menjadi ‘sekolah’ bagi terpidana terorisme. Dengan kata lain, program deradikalisasi belum maksimal. Karena itu, fakta yang sesungguhnya harus diungkap ke publik.

Langkah memindahkan semua tahanan teroris ke Lapas Pasir Putih Nusakambangan yang telah menerapkan super maximum security (SMS), adalah langkah tepat. Rutan Brimob cabang Rutan Salemba, bukanlah penjara yang tepat bagi terpidana terorisme. Ruang tahanan yang idealnya hanya dihuni 64 tahanan, ruang penyidikan dan tempat penyimpanan puluhan barang bukti senjata api dan bom, jelas sangat tidak memenuhi syarat.

Namun, langkah pemindahan napi teroris ke Lapas lainnya bukan satu-satunya solusi mengatasi pergolakan di dalam penjara. Langkah yang paling mendesak, benahi segera manajemen pengelolaan Rutan dan Lapas. Bukan rahasia lagi, semua Rutan dan Lapas di Indonesia melebihi kapasitas sehingga sering memicu pemberontakan.

Pembenahan, juga bukan hanya pada pembenahan fisik gedung saja. Justru yang lebih penting adalah bagaimana membina penghuninya ke arah positif. Tragedi di Rutan Brimob, jadi pelajaran mahal bagi pemerintah. **