Friday, 19 October 2018

Anak Tiri Nggitar Spanyol Si Ayah Nekat Main Cocol

Sabtu, 12 Mei 2018 — 6:30 WIB
anaktiri-l

JIKA ayah tiri kebanyakan micin, ya seperti Kamsidi, 42, inilah. Lihat penampilan dan bodi anak tiri yang nggitar Spanyol, jadi lupa daratan. Dengan ancaman tak akan dibiayai sekolahnya, Wahyuni, 17, terpaksa pasrah saja. Tapi karena si ayah tiri jadi ketagihan, akhirnya dia lapor ke paman dan sampai jadi urusan polisi.

Agaknya pansel (panitia seleksi) perlu dibentuk, manakala janda punya anak gadis hendak menikah lagi. Sebab banyak sekali ayah tiri yang pada kesetanan menodai anak bawaan istri. Maka lewat pansel tersebut bakal diketahui calon suami si janda ini pantas jadi bapak tiri atau tidak. Sebab jika sampai palah pilih, lagi-lagi anak tiri akan menjadi ajang kebuasan bapak tiri yang celamitan.

Ny. Giyuk, 45, warga Kotagede, Yogyakarta, saat menikah lagi dengan Kamsidi 5 tahun lalu, tak pernah kepikiran soal pansel semacam itu. Memangnya cari suami itu serumit mencari anggota KPK? Asal cocok, punya penghasilan, santun dan seiman, ya nikahlah. Pakai pansel-panselan, bisa kelamaan, padahal menyandang status janda sampai 5 tahun, dinginnya minta ampun.

Ketika menikah 5 tahun lalu, anak bawaan Giyuk baru tamat SD. Waktu itu Wahyuni masih belum bisa dilihat. Tapi 5 tahun kemudian ya sekarang ini, ya ampuuun, dulu bocah itu masih ingusan, sekarang sungguh bikin ngos-ngosan. Bodinya nggitar Spanyol, kulitnya putih, bodinya sekel nan cemekel.

Setiap hari melihat pemandangan seperti itu, iman Kamsidi jadi goyah. Mungkin kebanyakan micin –pinjam istilah anak sekarang– dia mulai membayangkan yang mboten-mboten. Setan yang melihatnya pun langsung meledek. “Hayo, baru mikir yang jorok-jorok lu ya? Tapi nggak papa, itu bapak tiri yang normal.” Kata setan mulai provokasi.

Bapak tiri seperti itu dianggap normal? Namanya juga setan, pasti perspektifnya ya dunia setan. Dan Kamsidi rupanya sangat setuju, sehingga diam-diam bikin hastag: #2018 ganti ranjang. Ya, Kamsidi memang ingin menikmati adegan ranjang bersama Wahyuni yang berbodi nggitar spanyol tersebut.

Ketika situasi di rumah sangat kondusif, di kala putrinya tidur siang diam-diam didatangi dan diraba-raba, persis dukun pijat. Tapi tangan Kamsidi muteeer saja di seputar dada dan di bawah perut. Lama-lama si anak tiri bangun, tapi si bapak tiri langsung mengancam, “Ssst, jangan cerita ke mana-mana, nanti nggak tak biayai sekolahmu.”

Ancaman itu sungguh bikin takut Wahyuni, sehingga lain hari menjadikan Kamsidi makin ketagihan. Bila dulu hanya main raba, kini “senjata” organiknya mulai ditempel-tempelkan ke daerah sensitip Wahyuni. Tentu saja si anak tiri jadi risih, sehingga akhirnya mengadu ke pamannya.

Tentu saja si paman kaget. Tanpa klarifikasi lebih dulu, langsung saja Kamsidi dilaporkan ke Polsek Kotagede dan langsung ditangkap. Awalnya mau berkelit, tapi karena Wahyuni menelanjanginya di depan polisi, dan semua ucapan anak tirinya itu memang “ngarani waton nyata”, Kamsidi tak bisa berkutik. “Ya Pak, saya memang lagi khilaf,” katanya pasrah.

Katanya khilaf kok mau nambah. (KR/Gunarso TS)