Thursday, 16 August 2018

Lebaran, Libur Panjang Dong?

Sabtu, 12 Mei 2018 — 6:14 WIB
imicak

“Hore…cuti Lebaran sepuluh hari! Mantap. Bisa jalan-jalan, kemana aja, ke saudara dan kawan-kawan di kampung, sambil mengenang nostalgia. Bisa ke tempat-tempat hiburan, sambil menikmat kuliner.

Bisa makan rujak cingur di Surabaya, gudeg di Jogya , empal gentong di Cirebon, sate kambing muda di Tegal? Asyik bisa bisa menikmari Lebaran sepuasnya, dengan santai sehabis bekerja setahun lamanya. Oke? Ayo, siapa yang nggak setuju?” ujar sahabat Bang Jalil yang bicara melalui HP.

“ Buat para pegawai pastinya setuju bangetlah,” ujar Bang Jalil.

“ Ya, buat pengusaha mah, nggak setuju ya,Pak?” sang isri nimbrung, “ Karena roda perusahaannya mendek,”

Semua ada untung ruginya. Tapi, pengusaha kan bisa mengatur strategi dalam menjalankan usahanya sebelum Lebaran ini. Kebut semua pekerjaan yang belum selesai, dan pemerintah juga harus membantu, misalnya beri pelayanan yang prima, agar tidak ada barang yang harusnya disalurkan ke masyarakat tidak terhenti.

“ Semua kan bisa diatur, yang penting nggak dibikin repot, iya nggak Pak?” kata sang istri.

Libur panjang, juga bisa mengurangi kemacetan sepanjang jalur mudik, karena bergantian, nggak usah mudik buru-buru, dan balik ke Jakarta buru-buru. Bergantianlah.

“ Kita juga bisa kebagian mudik ya Pak?” kata sang istri lagi.

Bang Jalil mengiyakan saja. Tapi, dia sendiri bingung. Mau mudik ke mana? Lho, kampung halamannya kan sudah digusur,sekarang jadi mal dan apartemen? Dia sendiri tinggal di pinggiran Jakarta?

“Kita kan udah nggak punya kampung, Bu?” kata Bang Jalil, lirih.

“ Ya, ke kampung mana aja lah. Ke Kampung Pulo, Kampung Melayu, Kampung Rambutan, kek….” ujar sang istri sambil ngibrit ke dapur.

Bang Jalil tesenyum simpul. Baginya, libur berapa hari pun nggak ngaruh. Kan dia petugas security, yang justru harus masuk pada hari libur? -massoes