Saturday, 26 May 2018

Siaga Hadapi Teror Pascakerusuhan

Sabtu, 12 Mei 2018 — 5:04 WIB

PASCAKERUSUHAN di ruang tahanan Mako Brimob, Kelapa Dua, Depok, masih menyisakan duka. Belum sehari setelah kerusuhan yang menewaskan 5 anggota polisi, seorang anggota Korps Brimob Polri kembali gugur.

Bripka Marhum Prencje ditikam orang tak dikenal saat melakukan pengamanan di sekitar Mako Brimob pascakerusuhan, Jumat (11/5/2018) sekitar pukul 02:29.

Tersangka pelaku yang kemudian diketahui bernama TS, akhirnya tewas ditembak oleh anggota Brimob, teman almarhum. Diketahui, tersangka menyimpan pisau di bawah alat kemaluannya. Polisi masih mengembangkan kasus tersebut, termasuk menguak latar latar belakang tersangka.

Penikaman terhadap anggota Polri bukan sekali ini terjadi. Pada Jumat (30/6/2017) malam, jelang HUT Polri tahun lalu, dua anggota Brimob diserang orang tak dikenal usai menunaikan salat Isya di Masjid Falatehan, Jalan Falatehan, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Pelaku tewas ditembak saat kabur ke arah Terminal Blok M.

Melihat dua kejadian tersebut, dan sederet peristiwa serupa – penyerangan terhadap anggota Polri, dapat dikatakan ancaman dalam menjalankan tugas kian meningkat. Tidak saja bertaruh nyawa saat menangkap begal yang belakangan kian sadis, meringkus bandar narkoba dan beragam penjahat bersenjata api. Juga ancaman teror.

Repotnya ancaman teror dapat terjadi kapan saja dan di mana saja. Ini lebih berisiko mengingat kejadiannya sulit diprediksi sebelumnya. Lain halnya dengan menggerebek sarang narkoba atau memburu perampok, tentunya strategi telah tersusun sebelumnya. Begitu pun peralatan sudah disiapkan.

Gerak gerik teroris sulit diidentifikasi karena keberadaannya menyatu dalam masyarakat. Status siaga tidak saja diterapkan pada kondisi emergency, tetapi dalam tugas sehari – hari.

Dalam konteks inilah merangkul masyarakat sebagai sahabat/mitra polisi menjadi sebuah keharusan. Membangun anggota masyarakat sebagai ujung tombak mitra kamtibmas perlu lebih dikedepankan dan menjadi prioritas pembinaan.

Pembinaan tidak sebatas kepada tokoh masyarakat, tetapi diperluas lagi kepada kelompok – kelompok masyarakat yang keberadaanya cukup beragam baik strata sosial ekonomi maupun profesinya.

Pembinaan akan berjalan baik jika mengedepankan sikap santun, rendah hati, bukan memperlihatkan arogansi yang bisa memperlebar jurang komunikasi.(*).