Monday, 12 November 2018

PERANGI MAFIA SEMBAKO

Senin, 14 Mei 2018 — 6:48 WIB

BUNG Budi Waseso, pensiunan jenderal bintang tiga dari kepolisian. Baru-baru ini mendapat kepercayaan memimpin Perum Bulog. Keberaniannya menjadi faktor andalan.

Bulog bertanggung jawab melayani berbagai macam kebutuhan pangan rakyat. Mengedepankan potensi dalam negeri.

Beras adalah bahan pangan pokok sekitar 260 juta penduduk. Per bulan menghabiskan 2,6 juta ton.

Pemerintahan bisa terguncang gara-gara beras. Bahkan tidak lagi mendapat kepercayaan rakyat bila membiarkan harga melambung.
*
Mafia musuh laten-tanpa bentuk. Mereka menimbun beras demi mengeruk untung.

Masa Ramadhan hingga Idul Fitri adalah peluang empuk mafia atau kawanan spekulan. Bagai mancing di air keruh.

Sang Jenderal ditunggu segera mengobarkan perang. Tumpas tuntas mafia. Perlakukanlah mereka hingga merintih!

Turunkan harga beras dan sembako lain. Supaya rakyat kecil mampu membeli.
*
Kewenangan Bulog minim penunjang. Berakibat tugas pokok dan fungsi kurang efektif.

Pemerintah sekarang mengesampingkan strategi komunikasi massa penguat peran Bulog. Meniadakan perpaduan jurus sambung rasa dengan model jarum suntik. Mungkin karena peninggalan masa silam.

Komunikasi model jarum suntik itu mengandalkan kehebatan mass media. Diramu dengan hasil safari sambung rasa atau sekarang dikenal istilah blusukan.

Publikasi seputar sembako hanya oleh satu juru bicara yang tahu persis dinamika lapangan. Siapapun tidak boleh sembarang nimbrung.
*
Mengabaikan strategi komunikasi, memicu keprihatinan. Laporan menteri satu dengan yang lain bertolak belakang.

Satu pihak bilang surplus. Swasembada beras. Pihak lain menegaskan terancam krisis.

Perdebatan terbuka, mengacaukan pasar. Peluang spekulan atau mafia bermain petak-umpet melebar. Sungguh merepotkan!

Ujung-ujungnya pemerintah impor 500 ribu ton. Berlawanan dengan semangat Nawacita kebanggaan Kabinet Kerja.
*
Petani, peternak, nelayan maupun para pelaku ekonomi di pelosok tanah air butuh data resmi tentang stok dan harga beras berikut lauk-pauk, cabai merah, cabai kriting, bawang, terigu, gula dan lain sebagainya itu.

Setidaknya, saudara-saudara kita tersebut mengetahui klaim pemerintah sesuai dengan hasil rapat kabinet. Memiliki kekuatan otoritas.

Info sama dapat memudahkan aparat di daerah-daerah untuk koreksi bila muncul ketidaksesuaian. Jadi upaya penanggulangan tanpa berlarut-larut.
*
Strategi Kerajaan Arab Saudi juga layak dicontoh. Walau minim menghasilkan bahan pangan, tetapi berhasil mengendalikan harga.

Penguasa menetapkan harga sekaligus mengawal ketat peredaran sampai dengan tingkat eceran. Ada 160 jenis kebutuhan pokok dan bukan pokok dari dalam dan luar negeri dapat prioritas perhatian.

Jangankan memenuhi kebutuhan rumah tangga bangsa sendiri, setiap hari melayani jutaan tamu dari manca negara relatif tanpa gejolak.
*
Bung Budi bersama tim memikul beban berat. Keberanian saja belum memadai. Ke depan tetap butuh strategi jitu.

Semoga sukses menjalankan amanat mulia, Jenderal!***